PERKEMBANGAN
BIMBINGAN DAN KONSELING, BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN DAN POLA
BIMBINGAN DAN KONSELING 17+
MAKALAH
Disusun guna memenuhi
tugas Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling
Dosen
Pengampu : Sigit Haryadi, S.pd.
Oleh
Kiftiyah Riris
Novita
(1301413122) / Rombel 3
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT
yang telah memberikan berkat dan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga makalah ini
dapat diselesaikan. Makalah ini kami susun dengan sumber yang sebenar-benarnya
dan dapat dipertanggung jawabkan.
Terima
kasih kami sampaikan kepada Bapak Sigit Haryadi, S.pd. yang telah membimbing
kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dan Tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
penyusunan makalah ini.
Kritik dan Saran yang mendukung sangat kami harapkan demi
penyempurnaan Makalah ini. Dan Semoga Makalah ini dapat bermanfaat atau berguna
dengan baik untuk semuanya.
Semarang,
29 September 2014
Penyusun.
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
………………………………………………………………………………………………i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………….ii
BAB I.............................................................................................................................iii
PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………………………….
.iii
Latar Belakang
................................................................................................Iii
Rumusan
Masalah …………………………………………………..………………………………………….. .Iv
Tujuan ………………………………………………………………………………………………………………... Iv
BAB II………………………………………………………………………………......1
PEMBAHASAN ……………………………………………………………..………………………………………......1
Perkembangan
Dan Konseling …………………………………………………..……………………………....1
Perkembangan
Bimbingan Dan Konseling Di Indonesia …………………………….………...... .4
Bimbingan
Dan Konseling Perkembangan ……………………………………………………………..7
Pola
Bimbingan Dan Konseling 17+ …………………………………………………………………....12
BAB III……………………………………………………………………………..…...v
PENUTUP
……………………………………………………………………………………………………………. ...v
Kesimpulan
……………………………………………………………………………………………………………...v
DAFTAR PUSTAKA
………………………………………………………………………………………….. ...vi
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di
Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh
Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai “Father of The Guedance
Movement in American Education”.yang menekankan pentingnya setiap individu
diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai
perbuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya dengan tujuan agar dapat
dipergunakan secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang
tepat bagi dirinya.
Disinilah pertama kalinya istilah Bimbingan (Vocational
Guidance) dikenal, tepatnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di
Boston.Dengan didirikannya biro yang bergerak di bidang profesi dan ketenaga
kerjaan. Dengan tujuan membantu para pemuda dalam memilih karir yang ia bidangi
dan melatih para guru untuk memberikan layanan bimbingan di sekolah.
Bimbingan
dan konseling adalah dua istilah yang penggunaannya hampir selalu digandengkan.
Bimbingan dan konseling adalah layanan ahli dan pengampu layanan ahli tersebut
disebut konselor. Sebutan konselor dalam sistem pendidikan di Indonesia telah
memiliki dasar legal karena sebutan konselor dinyatakaan secara eksplisit di
dalam UU No. 20/2003 pasal 1 (6).
Bimbingan
diartikan sebagai proses bantuan kepada indvidu dalam mencapai tingkat
perkembangan diri secara optimum. Ada dua kata kunci yang perlu dimaknai lebih
dalam dari definisi ini.Pertama, bantuan dalam arti bimbingan yaitu
memfasilitasi individu untuk mengembangkan kemampuan memilih dan mengambil
keputusan atas tanggung jawab sendiri. Proses perkembangan mengandung rangkaian
penetapan pilihan dan pengambilan keputusan, dalam menavigasi hidup, dan
kemampuan pengambilan keputusan ini merupakan perwujudan dari daya suai
individu terhadap dinamika lingkungan. Kedua, perkembangan optimum
adalah perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai yang
dianut.untuk itu, konselor perlu memahami Perkembangan
Individu dan Assesmen.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Sejarah
lahirnya bimbingan dan konseling
2.
Faktor-faktor
yang melatar belakangi berkembangnya bimbingan dan konsseling
3.
Perkembangan
bimbingan dan konseling di Indonesia
4.
Bimbingan
dan konseling perkembangan
5.
Pola
bimbingan dan konseling 17+.
C.
TUJUAN
Mahasiswa dapat mengetahui
tentang sejarah bimbingan dan konseling, bimbingan dan konseling perkembangan,
serta pola bimbingan dan konseling 17+.
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan
Bimbingan Konseling Secara Umum
a.
Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling
Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di
Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh
Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai “Father of The Guedance
Movement in American Education”.yang menekankan pentingnya setiap individu
diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai
perbuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya dengan tujuan agar dapat
dipergunakan secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang
tepat bagi dirinya.(wieke octora olivia,2012).
Disinilah pertama kalinya istilah Bimbingan (Vocational
Guidance) dikenal, tepatnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di
Boston.Dengan didirikannya biro yang bergerak di bidang profesi dan ketenaga
kerjaan. Dengan tujuan membantu para pemuda dalam memilih karir yang ia bidangi
dan melatih para guru untuk memberikan layanan bimbingan di sekolah.
Pada masa yang hampir bersamaan, seorang konselor di Detroit
Jasse B. Davis mulai memberikan layanan Konseling Pendidikan dan
pekerjaan di SMA (1898). Dan pada tahun 1907 ia mencoba memasukkan program
Bimbingan (Guidance) ke dalam pengalaman pendidikan para siswa Central
High School di Detroit.
Eli Weaver pada tahun 1905 mendirikan sebuah komite yang
diketuainya sendiri yaitu Students Aid Committee Of The High School di
New york. Dalam pengembangan komitenya, Weaver sampai pada kesimpulan bahwa
siswa butuh saran dan konsultasi sebelum mereka masuk dunia kerja.Pada tahun
1920-an, para konselor sekolah di Boston dan New York diharapkan dapat membantu
para siswa dalam memilih sekolah dan pekerjaan. Selama tahun 1920-an itu pula,
sertifikasi konselor sekolah mulai diterapkan pada kedua kota tersebut.(Bimo
Walgito,2010:15)
Jika dilihat dari perkembangannya, Bimbingan Konseling
mula-mulanya hanya dikenal sebatas pada bimbingan pekerjaan (Vocational
Guidance), sebagaimana peran dari Biro yang didirikan Frank Parson di
Boston. Namun sebenarnya tidak hanya itu,di sisi lain perkembangan Bimbingan
Konseling pun merambah kebidang pendidikan (Education Guidance) yang
dirintis oleh Jasse B. Davis. dan sekarang dikenal pula adanya bimbingan dalam
segi kepribadian (Personal Guidance).
Pada dasarnya, Bimbingan Konseling tidak hanya berkmbang
pada bidang-bidang tersebut, namun berkembang pula pada bidang-bidang lain yang
meliputi pegertian dan pratek bimbingan dan Konseling, seperti bimbingan dalam
bidang social, kewarganegaraan, keagamaan, dan lain-lain.
b Faktor-faktor yang melatar belakangi
berkembangnya Bimbingan Konseling
Upaya
layanan bimbingan dan konseling secara profesional lahir di Amerika serikat dan
berkembang pesat abad ke-20.Banyak faktor yang mendorong pesatnya perkembangan
disiplin ilmu ini, hingga mampu menerobos institusi-institusi pendidikan
khususnya sekolah. Sedikitnya, terdapat enam faktor yang mempelopori
perkembangan bimbingan dan konseling tersebut, di antaranya yaitu:
1.
Perhatian pemerintah terhadap
penduduk imigran yang datang ke Amerika Serikat dari kawasan Eropa, mereka
membutuhkan pekerjaan yang layak, dari situlah kemudian mendapat layanan dari
biro-biro vokasional pemerintah, yang melalui penyuluhan-penyuluhan untuk
mengarahkan bakat dan minat mereka agar pekerjaan yang di dapat sesuai dengan
potensi mereka.
2. Pandangan Kristen yang beranggapan
bahwa dunia adalah tempat pertempuran antara kekuatan baik dan buruk, atas
dasar ini maka berbagai lembaga pendidikan di wajibkan mengajarkan moral
kebaikan agar anak didiknya kelak menjadi pemenang dalam melawan kejahatan atau
keburukan tersebut.
3. Pengaruh dari disiplin ilmu
kesehatan mental yang pada awalnya memperjuangkan perlakuan manusiawi kepada
orang-orang yang terkena gangguan jiwa dan sedang di tampung di rumah sakit.
Kemudian disiplin ilmu ini melakukan gerakan antisipasi terhadap gangguan
mental kepada masyarakat.Sebab mereka berangggapan bahwa gangguan mental dapat
di cegah jika mampu dideteksi sejak dini.
4. Dampak dari gerakan testing
psikologis yang semakin mengembangkan sayapnya dalam membuat
instrumen-instrumen berupa tes-tes kepribadian untuk menyeleksi karyawan di
berbagai perusahaan.
5. Subsidi dari pemerintah terhadap
federal yang memungkinkan lembaga-lembaga pendidikan untuk mengangkat beberapa
konselor untuk menangani bimbingan karier, pendidikan karier, penanggulangan
kenakalan remaja, antisipasi terhadap penggunaan obat bius, dan lain-lain.
6.
Pengaruh dari penyakit terapi nondirektif (client cetered therapy), yang
dikembangkan oleh Carl Rogers, dengan menggantikan pendekatan otoriter serta
paternalistic dengan pendekatan pada potensi personal
kliennya.(Jareperpus,2011).
Perkembangan Bimbingan Konseling Di
Indonesia
a. Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling
di Indonesia
Di Indonesia sendiri, praktek Bimbingan Konseling sebenarnya sudah lama
diperankan, seperti berdirinya organisasi pemuda Budi Utomo pada tahun 1908,
himgga pada periode selanjutnya berdirilah pergurua Taman Siswa pada tahun 1922 yang diprakarsai
oleh Ki Hajar Dewantara yang menanamkan nilai-nilai Nasionalisme di kalangan
para siswanya.
Prinsip didaktik yang dipegang oleh Perguruan Nasional Taman
Siswa ini antara lain: kemerdekaan belajar, bekerja dan menggunakan pendekatan
konvergensi. Dari pola pendidikan Taman Siswa tersebut telah nampak perhatian
dan penghargaan terhadap potensi seseorang dan kemerdekaan untuk mengembangkan
potensi.Hal ini merupakan benih dari gerakan bimbingan konseling.
Dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal
17 Agustus 1945 dan didiriknnya beberapa kementrian pada waktu itu (ada Kantor
Penempatan Kerja) yang salah satu kegiatannya dilakukan di Kantor Penempatan
Tenaga Kerja yang maksudnya untuk menempatkan orang-orang agar dapat bekerja
sesuai dengan kemampuannya dan ini menyerupai VocationalBureau yang
didirikan oleh Frank Parsons di Boston. Sekarang ini kantor Penempatan Tenaga
Kerja ini tumbuh menjadi Departemen Tenaga Kerja.
Dalam perkembangannya, bimbingan dan konseling di Indonesia
memiliki alur yang sama seperti halnya perkembangannya di Amerika, yaitu
bermula dari bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance) lalu merambah
kepada bimbinganpendidikan (Education Guidance).
b. Perkembangan Bimbingan Konseling
dalam system Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, Pelayanan Konseling
dalam system pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada
kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada
Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan
sekarang.(Sarjanaku 2011).
Dengan diadakannya konferensi FKIP seluruh Indonesia yang
berlangsung di Malang sejak tanggal 20-24 Agustus 1960, telah diputuskan bahwa
Bimbingan dan Konseling dimasukkan dalam kurikulum FKIP.Hal tersebut
menunjukkan adanya langkah yang lebih maju, yaitu Bimbingan dan Konseling
sebagai suatu ilmu dikupas secara ilmiah.
Dengan adanya instruksi dari pihak pemerintah ( Departemen Pendidikan
Dan Kebudayaan) untuk melaksakan Bimbingan dan Konseling di sekolah-sekolah, telah
membuat bimbingan dan konseling semakin maju di lingkungan sekolah.(Bimo
Walgito,2010:17).
Beberpapa tahun setelah itu, didirikanlah SMA gaya baru pada
tahun 1962. Pada jenjeng ini para siswa mulai diarahkan secara mandiri dengan
bimbingan para guru untuk menentukan kejuruan sesuai dengan bidang yang ia minati dan ia
bidangi. Dimulai dari sini Bimbingan Konseling membantu penjurusan di SMA atas
beberapa bidang jurusan dengan ketegasan sebagai berikut:
1. Di kelas I itu para pelajar diberi
kesempatan untuk lebih mengenal bakat dan minatnya dengan jalan menjelajahi
segala jenis mata pelajaran di sekolah dengan bantuan pembimbing, para guru dan
orang tuanya.
2. Di kelas II para siswa disalurkan ke
kelompok khusus; budaya, pasti, pengetahuan alam.
3. Untuk menunjuk hal-hal tersebut di
atas pengisian kartu pribadi siswa harus dilakukan dengan seteliti-telitinya.
Sejak saat itu guru-guru ditatar menjadi pembimbing yang baik.
Setelah dirintis dalam dekade 60-an, bimbingan dicoba
penataannya dalam dekade 70-an. Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
membawa harapan baru pada pelaksanaan bimbingan di sekolah karena staf
bimbingan memegang peranan penting dalam sistem sekolah pembangunan.Secara
formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak diberlakukannya
kurikulum 1975 yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian
integral dalam pendidikan di sekolah.Pada tahun 1975 berdiri ikatan Petugas
Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang.IPBI ini memberikan pengaruh terhadap
perluasan program bimbingan di sekolah.
Setelah
melalui penataan, dalam dekade 80-an, bimbingan diupayakan agar lebih
mantap.Pemantapan terutama diusahakan untuk mewujudkan layanan bimbingan yang
profesional.Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini
adalah penyempurnaan kurikulum dari Kurikulum 1975 ke Kurikulum 1984.Dalam
kurikulum 1984, telah dimasukkan bimbingan karier di dalmnya.Usaha memantapkan
bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakukannya UU No. 2/1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah
usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya pada masa yang akan datang.
Penataan
bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84/1993 tentang
Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.Dalam Pasal 3 disebutkan tugas
pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan,
evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan
tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi
tanggung jawabnya.
Selanjutnya, pada tahun 2001 terjadi perubahan nama
organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan
dan Konseling Indonesia (ABKIN). Pemunculan nama ini dilandasi terutama oleh
pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil sebagai profesi yang
mendapat pengakuan dan kepercayaan publik.(jareperpus,2011)
Bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami selalu
mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Hampir dalam setiap dekade
perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami perubahan yang
signifikan, hingga sekarang bimbingan dan konseling terus diupayakan lebih
maju, terbukti dengan dibukanya berbagai jurusan dan kejuruan pada
sekolah-sekolah khususnya di sekolah menengah atas.
B.
Bimbingan dan konseling
perkembangan.
BK perkembangan adalah Proses bantuan yang proaktif dan
sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang
optimal, pribadi yang efektif – produktif, dan keberfungsiannya di dalam
lingkungan melalui interaksi yang sehat. Definisi diatas juga tertuang
pada Visi bimbingannya.Visi bimbingan perkembangan bersifat edukatif,
pengembangan dan outreach.Edukatif karena titik berat layanan bimbingan
perkembangan ditekankan pada pencegahan dan pengembangan, bukan korektif atau
terapeutik, walaupun layanan tersebut tidak diabaikan.Pengembangan karena
titik sentral sasaran bimbingan perkembangan adalah perkembangan optimal
seluruh aspek kepribadian individu dengan upaya pokoknya memberikan kemudahan
perkembangan melalui rekayasa lingkungan perkembangan. Outreach karena
target populasi layanan bimbingan perkembangan tidak terbatas pada individu
yang bermasalah, tetapi semua individu berkenaan dengan semua aspek
kepribadiannya dalam semua konteks kehidupan.
Ada tiga fungsi pendidikan yaitu fungsi pengembangan, membantu
individu mengembangkan diri sesuai potensinya, peragaman diferensiasi),
membantu individu memilih arah perkembangn yang tepat sesuai potensinya, dan integrasi,membawa
keragaman perkembangan ke arah tujuan yang sama sesuai dengan hakikat manusia
untuk menjadi pribadi utuh.
Dalam mewujudkan pribadi utuh, BK perkembangan peduli
terhadap pengembangan kemampuan nalar yang motekar atau kreatif untuk hidup
baik dan benar. Upaya bimbingan dalam merealisasikan fungsi-fungsi pendidikan
seperti disebutkan terarah kepada upaya membantu individu, dengan kemotekaran
nalarnya, untuk memperhalus (refine), menginternalisasi, memperbaharui dan
mengintegrasi system nilai ke dalam perilaku mandiri.
Secara
spesifik, fungsi BK perkembangan diantaranya yaitu
1.
Pemahaman. Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkem-bangan peserta
didik dan mem-bantu merekauntuk mema-haminya secaraobjektif/realistik
2.
Preventif. Memberikan Layanan orientasi dan informasi mengenai berbagai aspek
kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah.
3.
Pengembangan. Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu
Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembangannya
4.
Kuratif Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang
dihadapinya (pribadi, sosial, belajar, atau karir).
Pada dekade ini penekanan perkembangan sebagai tujuan utama
bimbingan dan konseling semakin kokoh. Keyakinan dasar bimbingan dan konseling
perkembangan ini ditegaskan Fassinger & Schlossberg (1992 dalam Leona
Tyler, 1999) yang pada intinya konseling perkembangan adalah psikoterapi yang
mengkombinasikan pendekatan perkembangan dan ekologis.
Perkembangan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling
yang dicapai pada akhir abad-20 telah menunjukan identitas profesi yang semakin
kokoh.Model bimbingan dan konseling (perkembangan) komprehensif adalah model
yang memposisikan konselor untuk menaruh perhatian penuh kepada seluruh siswa,
bekerjasama dengan orang tua, guru, administrator dan stakeholder
lainnya.
Makna dan tujuan konselingsekolah profesional untuk abad-21,
dikemukakan oleh sebuah jurnal yang terbit di Amerika Serikat, yaitu The
Educational Trust (Djawad : 2006) adalah sebagai berikut :
Konseling sekolah adalah suatu profesi yang terfokus pada
relasi dan interaksi antara siswa dan lingkungan sekolah dengan tujuan untuk mengurangi
pengaruh hambatan-hambatan lingkungan dan kelembagaan yang mengganggu
keberhasilan siswa.
Perubahan orientasi ini akan berdmpak pada peran konselor
dan konseling di sekolah, yang dapat diganbarkan sebagai berikut.
Perbedaan Antara Sekarang dan Masa
Depan
|
Deskripsi
Peran Tradisional
|
Deskripsi Peran menurut Visi Baru
|
|
|
Perubahan dan perkembangan di masa depan itu dapat dilihat
pula dalam bentuk pergeseran fokus garapan konseling di sekolah, yaitu
pergeseran dari fokus yang bersifat individual ke fokus yang bersifat sistemik,
seperti digambarkan di bawah ini.
Suatu Pergeseran Fokus
|
Fokus Individual
|
Fokus Sistemik
|
|
|
Perbedaan antara Bimbingan Tradisional dan
Bimbingan Perkembangan (Komprehensif)
|
Bimbingan Tradisional
|
Bimbingan Perkembangan
(Komprehensif)
|
|
|
Perubahan
dan perkembangan bimbingan dan konselig dari sekarang ke masa depan sudah
terlihat dari tabel di atas
C.
Pola
Bimbingan dan Konseling 17+
Pengertian
Pola bimbingan dan konseling pola 17+ adalah
pemberian bantuan kepada peserta didik melalui, 6 bidang bimbingan, 9 layanan,
dan 6 layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.
Tujuan
Secara umum tujuan pola bimbingan dan konseling 17+
adalah membantu peserta didik mengenal bakat , minat , dan kemampuannya, serta
memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan, pendidikan, dan merencanakan
karier yang sesuai dengan tuntutan kerja. Secara khusus bertujuan untuk
membantu peserta didik agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi
aspek pribadi, social, belajar, dan karier.
Fungsi
Fungsi pemahaman, fungsi yang menghasilkan pemahaman peserta
didik tentang diri dan lingkungan.
Fungsi
pencegahan, fungsi yang berupaya mencegah peserta didik agar tidak menemui
permasalahan yang dapat mengganggu, menghambat, atau menimbulkan kesulitan
dalam proses perkembangannya.
Fungsi perbaikan, fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu peserta didik mengatasi berbagai permasalahan yang di hadapi.
Fungsi pemeliharaan, fungsi yang bertujuan untuk menjaga
agar perilaku peserta didik yang sudah baik jangan sampai rusak kembali.
Fungsi pengembangan, fungsi dalam
mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik.
Fungsi penyaluran, fungsi dalam membantu peserta didik untuk
memilih dan memantapkan penguasaan karier yang sesuai dengan bakat, minat,
keahlian, dan cirri-ciri kepribadiannya.
Fungsi penyesuaian, fungsi dalam membantu peserta didik
menemukan penyesuaian diri dan perkembangannya secara optimal.
Fungsi adaptasi, fungsi yang membantu staf sekolah untuk
mengadaptasikan program pengajaran dengan minat, kemampuan, serta kebutuhan
peserta didik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bimbingan dan konseling pertama kali dikenal di Amerika
dengan didirikannya Vodational Berou yang dipelopori oleh Frank Parson
pada tahun 1908. Bertepatan dengan itu seorang konselor Jasse B. Davis memasukkan layanan konseling di SMA di
Detroid (1907). Lalu dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lain hingga perkembangannya
pesat hingga di Indonesia.
BK perkembangan adalah Proses bantuan yang proaktif dan
sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang
optimal, pribadi yang efektif – produktif, dan keberfungsiannya di dalam
lingkungan melalui interaksi yang sehat.
Pola bimbingan dan konseling pola 17+ adalah
pemberian bantuan kepada peserta didik melalui, 6 bidang bimbingan, 9 layanan,
dan 6 layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA







0 komentar:
Posting Komentar