Kamis, 18 Desember 2014

Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling pola 17+



PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING, BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN DAN POLA BIMBINGAN DAN KONSELING 17+
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengampu :  Sigit Haryadi, S.pd.


Oleh
              Kiftiyah Riris Novita
                (1301413122) / Rombel 3


BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan berkat dan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini kami susun dengan sumber yang sebenar-benarnya dan dapat dipertanggung jawabkan.
Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Sigit Haryadi, S.pd. yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dan Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini.
            Kritik dan Saran yang mendukung sangat kami harapkan demi penyempurnaan Makalah ini. Dan Semoga Makalah ini dapat bermanfaat atau berguna dengan baik untuk semuanya.


Semarang, 29 September 2014


Penyusun.



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………………………i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………….ii
BAB I.............................................................................................................................iii
PENDAHULUAN …………………………………………………………………………………………………. .iii
Latar Belakang ................................................................................................Iii
Rumusan Masalah …………………………………………………..………………………………………….. .Iv
Tujuan ………………………………………………………………………………………………………………... Iv
BAB II………………………………………………………………………………......1
PEMBAHASAN ……………………………………………………………..………………………………………......1
Perkembangan Dan Konseling …………………………………………………..……………………………....1
Perkembangan Bimbingan Dan Konseling Di Indonesia …………………………….………...... .4
Bimbingan Dan Konseling Perkembangan ……………………………………………………………..7
Pola Bimbingan Dan Konseling 17+ …………………………………………………………………....12
BAB III……………………………………………………………………………..…...v
PENUTUP ……………………………………………………………………………………………………………. ...v
Kesimpulan ……………………………………………………………………………………………………………...v
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………….. ...vi




BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG

Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai “Father of The Guedance Movement in American Education”.yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan dan kelemahan yang ada pada  dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang tepat bagi dirinya.

Disinilah pertama kalinya istilah Bimbingan (Vocational Guidance) dikenal, tepatnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di Boston.Dengan didirikannya biro yang bergerak di bidang profesi dan ketenaga kerjaan. Dengan tujuan membantu para pemuda dalam memilih karir yang ia bidangi dan melatih para guru untuk memberikan layanan bimbingan di sekolah.
Bimbingan dan konseling adalah dua istilah yang penggunaannya hampir selalu digandengkan. Bimbingan dan konseling adalah layanan ahli dan pengampu layanan ahli tersebut disebut konselor. Sebutan konselor dalam sistem pendidikan di Indonesia telah memiliki dasar legal karena sebutan konselor dinyatakaan secara eksplisit di dalam UU No. 20/2003 pasal 1 (6).
Bimbingan diartikan sebagai proses bantuan kepada indvidu dalam mencapai tingkat perkembangan diri secara optimum. Ada dua kata kunci yang perlu dimaknai lebih dalam dari definisi ini.Pertama, bantuan dalam arti bimbingan yaitu memfasilitasi individu untuk mengembangkan kemampuan memilih dan mengambil keputusan atas tanggung jawab sendiri. Proses perkembangan mengandung rangkaian penetapan pilihan dan pengambilan keputusan, dalam menavigasi hidup, dan kemampuan pengambilan keputusan ini merupakan perwujudan dari daya suai individu terhadap dinamika lingkungan. Kedua, perkembangan optimum adalah perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai yang dianut.untuk itu, konselor perlu memahami Perkembangan Individu dan Assesmen.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Sejarah lahirnya bimbingan dan konseling
2.      Faktor-faktor yang melatar belakangi berkembangnya bimbingan dan konsseling
3.      Perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia
4.      Bimbingan dan konseling perkembangan
5.      Pola bimbingan dan konseling 17+.

C.     TUJUAN
Mahasiswa dapat mengetahui tentang sejarah bimbingan dan konseling, bimbingan dan konseling perkembangan, serta pola bimbingan dan konseling 17+.


 BAB II
PEMBAHASAN

A.   Perkembangan Bimbingan Konseling Secara Umum

a.       Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling

Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai “Father of The Guedance Movement in American Education”.yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan dan kelemahan yang ada pada  dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang tepat bagi dirinya.(wieke octora olivia,2012).
Disinilah pertama kalinya istilah Bimbingan (Vocational Guidance) dikenal, tepatnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di Boston.Dengan didirikannya biro yang bergerak di bidang profesi dan ketenaga kerjaan. Dengan tujuan membantu para pemuda dalam memilih karir yang ia bidangi dan melatih para guru untuk memberikan layanan bimbingan di sekolah.
Pada masa yang hampir bersamaan, seorang konselor di Detroit Jasse B. Davis mulai memberikan layanan Konseling Pendidikan dan pekerjaan di SMA (1898). Dan pada tahun 1907 ia mencoba memasukkan program Bimbingan (Guidance) ke dalam pengalaman pendidikan para siswa Central High School di Detroit.
Eli Weaver pada tahun 1905 mendirikan sebuah komite yang diketuainya sendiri yaitu Students Aid Committee Of The High School di New york. Dalam pengembangan komitenya, Weaver sampai pada kesimpulan bahwa siswa butuh saran dan konsultasi sebelum mereka masuk dunia kerja.Pada tahun 1920-an, para konselor sekolah di Boston dan New York diharapkan dapat membantu para siswa dalam memilih sekolah dan pekerjaan. Selama tahun 1920-an itu pula, sertifikasi konselor sekolah mulai diterapkan pada kedua kota tersebut.(Bimo Walgito,2010:15)
Jika dilihat dari perkembangannya, Bimbingan Konseling mula-mulanya hanya dikenal sebatas pada bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance), sebagaimana peran dari Biro yang didirikan Frank Parson di Boston. Namun sebenarnya tidak hanya itu,di sisi lain perkembangan Bimbingan Konseling pun merambah kebidang pendidikan (Education Guidance) yang dirintis oleh Jasse B. Davis. dan sekarang dikenal pula adanya bimbingan dalam segi kepribadian (Personal Guidance).
Pada dasarnya, Bimbingan Konseling tidak hanya berkmbang pada bidang-bidang tersebut, namun berkembang pula pada bidang-bidang lain yang meliputi pegertian dan pratek bimbingan dan Konseling, seperti bimbingan dalam bidang social, kewarganegaraan, keagamaan, dan lain-lain.

b   Faktor-faktor yang melatar belakangi berkembangnya Bimbingan Konseling

            Upaya layanan bimbingan dan konseling secara profesional lahir di Amerika serikat dan berkembang pesat abad ke-20.Banyak faktor yang mendorong pesatnya perkembangan disiplin ilmu ini, hingga mampu menerobos institusi-institusi pendidikan khususnya sekolah. Sedikitnya, terdapat enam faktor yang mempelopori perkembangan bimbingan dan konseling tersebut, di antaranya yaitu:
      
1Perhatian pemerintah terhadap penduduk imigran yang datang ke Amerika Serikat dari kawasan Eropa, mereka membutuhkan pekerjaan yang layak, dari situlah kemudian mendapat layanan dari biro-biro vokasional pemerintah, yang melalui penyuluhan-penyuluhan untuk mengarahkan bakat dan minat mereka agar pekerjaan yang di dapat sesuai dengan potensi mereka.
                
2.    Pandangan Kristen yang beranggapan bahwa dunia adalah tempat pertempuran antara kekuatan baik dan buruk, atas dasar ini maka berbagai lembaga pendidikan di wajibkan mengajarkan moral kebaikan agar anak didiknya kelak menjadi pemenang dalam melawan kejahatan atau keburukan tersebut.
                
3.    Pengaruh dari disiplin ilmu kesehatan mental yang pada awalnya memperjuangkan perlakuan manusiawi kepada orang-orang yang terkena gangguan jiwa dan sedang di tampung di rumah sakit. Kemudian disiplin ilmu ini melakukan gerakan antisipasi terhadap gangguan mental kepada masyarakat.Sebab mereka berangggapan bahwa gangguan mental dapat di cegah jika mampu dideteksi sejak dini.
                
4.    Dampak dari gerakan testing psikologis yang semakin mengembangkan sayapnya dalam membuat instrumen-instrumen berupa tes-tes kepribadian untuk menyeleksi karyawan di berbagai perusahaan.
                
5.    Subsidi dari pemerintah terhadap federal yang memungkinkan lembaga-lembaga pendidikan untuk mengangkat beberapa konselor untuk menangani bimbingan karier, pendidikan karier, penanggulangan kenakalan remaja, antisipasi terhadap penggunaan obat bius, dan lain-lain.

6. Pengaruh dari penyakit terapi nondirektif (client cetered therapy), yang dikembangkan oleh Carl Rogers, dengan menggantikan pendekatan otoriter serta paternalistic dengan pendekatan pada potensi personal kliennya.(Jareperpus,2011).






Perkembangan Bimbingan Konseling Di Indonesia

a.       Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling di Indonesia

Di Indonesia sendiri, praktek  Bimbingan Konseling sebenarnya sudah lama diperankan, seperti berdirinya organisasi pemuda Budi Utomo pada tahun 1908, himgga pada periode selanjutnya berdirilah pergurua  Taman Siswa pada tahun 1922 yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara yang menanamkan nilai-nilai Nasionalisme di kalangan para siswanya.

Prinsip didaktik yang dipegang oleh Perguruan Nasional Taman Siswa ini antara lain: kemerdekaan belajar, bekerja dan menggunakan pendekatan konvergensi. Dari pola pendidikan Taman Siswa tersebut telah nampak perhatian dan penghargaan terhadap potensi seseorang dan kemerdekaan untuk mengembangkan potensi.Hal ini merupakan benih dari gerakan bimbingan konseling.

Dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan didiriknnya beberapa kementrian pada waktu itu (ada Kantor Penempatan Kerja) yang salah satu kegiatannya dilakukan di Kantor Penempatan Tenaga Kerja yang maksudnya untuk menempatkan orang-orang agar dapat bekerja sesuai dengan kemampuannya dan ini menyerupai VocationalBureau yang didirikan oleh Frank Parsons di Boston. Sekarang ini kantor Penempatan Tenaga Kerja ini tumbuh menjadi Departemen Tenaga Kerja.

Dalam perkembangannya, bimbingan dan konseling di Indonesia memiliki alur yang sama seperti halnya perkembangannya di Amerika, yaitu bermula dari bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance) lalu merambah kepada bimbinganpendidikan (Education Guidance).

b.      Perkembangan Bimbingan Konseling dalam system Pendidikan di Indonesia

Di Indonesia, Pelayanan Konseling dalam system pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan sekarang.(Sarjanaku 2011).

Dengan diadakannya konferensi FKIP seluruh Indonesia yang berlangsung di Malang sejak tanggal 20-24 Agustus 1960, telah diputuskan bahwa Bimbingan dan Konseling dimasukkan dalam kurikulum FKIP.Hal tersebut menunjukkan adanya langkah yang lebih maju, yaitu Bimbingan dan Konseling sebagai suatu ilmu dikupas secara ilmiah.  Dengan adanya instruksi dari pihak pemerintah ( Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan) untuk melaksakan Bimbingan dan Konseling di sekolah-sekolah, telah membuat bimbingan dan konseling semakin maju di lingkungan sekolah.(Bimo Walgito,2010:17).

Beberpapa tahun setelah itu, didirikanlah SMA gaya baru pada tahun 1962. Pada jenjeng ini para siswa mulai diarahkan secara mandiri dengan bimbingan para guru untuk menentukan kejuruan sesuai dengan bidang yang ia minati dan ia bidangi. Dimulai dari sini Bimbingan Konseling membantu penjurusan di SMA atas beberapa bidang jurusan dengan ketegasan sebagai berikut:

1.      Di kelas I itu para pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal bakat dan minatnya dengan jalan menjelajahi segala jenis mata pelajaran di sekolah dengan bantuan pembimbing, para guru dan orang tuanya.

2.       Di kelas II para siswa disalurkan ke kelompok khusus; budaya, pasti, pengetahuan alam.

3.      Untuk menunjuk hal-hal tersebut di atas pengisian kartu pribadi siswa harus dilakukan dengan seteliti-telitinya. Sejak saat itu guru-guru ditatar menjadi pembimbing yang baik.

Setelah dirintis dalam dekade 60-an, bimbingan dicoba penataannya dalam dekade 70-an. Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) membawa harapan baru pada pelaksanaan bimbingan di sekolah karena staf bimbingan memegang peranan penting dalam sistem sekolah pembangunan.Secara formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak diberlakukannya kurikulum 1975 yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah.Pada tahun 1975 berdiri ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang.IPBI ini memberikan pengaruh terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.

Setelah melalui penataan, dalam dekade 80-an, bimbingan diupayakan agar lebih mantap.Pemantapan terutama diusahakan untuk mewujudkan layanan bimbingan yang profesional.Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini adalah penyempurnaan kurikulum dari Kurikulum 1975 ke Kurikulum 1984.Dalam kurikulum 1984, telah dimasukkan bimbingan karier di dalmnya.Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakukannya UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya pada masa yang akan datang.
Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.Dalam Pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Selanjutnya, pada tahun 2001 terjadi perubahan nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Pemunculan nama ini dilandasi terutama oleh pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil sebagai profesi yang mendapat pengakuan dan kepercayaan publik.(jareperpus,2011)

Bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami selalu mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Hampir dalam setiap dekade perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan, hingga sekarang bimbingan dan konseling terus diupayakan lebih maju, terbukti dengan dibukanya berbagai jurusan dan kejuruan pada sekolah-sekolah khususnya di sekolah menengah atas.
B.   Bimbingan dan konseling perkembangan.
BK perkembangan adalah Proses bantuan yang proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pribadi yang efektif – produktif, dan keberfungsiannya di dalam lingkungan melalui interaksi yang sehat.  Definisi diatas juga tertuang pada Visi bimbingannya.Visi bimbingan perkembangan bersifat edukatif, pengembangan dan outreach.Edukatif karena titik berat layanan bimbingan perkembangan ditekankan pada pencegahan dan pengembangan, bukan korektif atau terapeutik, walaupun layanan tersebut tidak diabaikan.Pengembangan  karena titik sentral sasaran bimbingan perkembangan adalah perkembangan optimal seluruh aspek kepribadian individu dengan upaya pokoknya memberikan kemudahan perkembangan melalui rekayasa lingkungan perkembangan. Outreach karena target populasi layanan bimbingan perkembangan tidak terbatas pada individu yang bermasalah, tetapi semua individu berkenaan dengan semua aspek kepribadiannya dalam semua konteks kehidupan.
Ada tiga fungsi pendidikan yaitu fungsi pengembangan, membantu individu mengembangkan diri sesuai potensinya, peragaman diferensiasi), membantu individu memilih arah perkembangn yang tepat sesuai potensinya, dan integrasi,membawa keragaman perkembangan ke arah tujuan yang sama sesuai dengan hakikat manusia untuk menjadi pribadi utuh.
Dalam mewujudkan pribadi utuh, BK perkembangan peduli terhadap pengembangan kemampuan nalar yang motekar atau kreatif untuk hidup baik dan benar. Upaya bimbingan dalam merealisasikan fungsi-fungsi pendidikan seperti disebutkan terarah kepada upaya membantu individu, dengan kemotekaran nalarnya, untuk memperhalus (refine), menginternalisasi, memperbaharui dan mengintegrasi system nilai ke dalam perilaku mandiri.
Secara spesifik, fungsi BK perkembangan diantaranya yaitu
1.   Pemahaman. Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkem-bangan peserta didik dan mem-bantu merekauntuk mema-haminya secaraobjektif/realistik
2.   Preventif. Memberikan Layanan orientasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah.
3.   Pengembangan. Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembangannya
4.   Kuratif Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi, sosial, belajar, atau karir).
Pada dekade ini penekanan perkembangan sebagai tujuan utama bimbingan dan konseling semakin kokoh. Keyakinan dasar bimbingan dan konseling perkembangan ini ditegaskan Fassinger & Schlossberg (1992 dalam Leona Tyler, 1999) yang pada intinya konseling perkembangan adalah psikoterapi yang mengkombinasikan pendekatan perkembangan dan ekologis.
Perkembangan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang dicapai pada akhir abad-20 telah menunjukan identitas profesi yang semakin kokoh.Model bimbingan dan konseling (perkembangan) komprehensif adalah model yang memposisikan konselor untuk menaruh perhatian penuh kepada seluruh siswa, bekerjasama dengan orang tua, guru, administrator dan stakeholder lainnya.
Makna dan tujuan konselingsekolah profesional untuk abad-21, dikemukakan oleh sebuah jurnal yang terbit di Amerika Serikat, yaitu The Educational Trust (Djawad : 2006) adalah sebagai berikut :
Konseling sekolah adalah suatu profesi yang terfokus pada relasi dan interaksi antara siswa dan lingkungan sekolah dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh hambatan-hambatan lingkungan dan kelembagaan yang mengganggu keberhasilan siswa.
Perubahan orientasi ini akan berdmpak pada peran konselor dan konseling di sekolah, yang dapat diganbarkan sebagai berikut.




Perbedaan Antara Sekarang dan Masa Depan
Deskripsi Peran Tradisional
Deskripsi Peran menurut Visi Baru
  1. Konseling
  2. Konsultasi
  3. Koordinasi
  1. Kepemimpinan
  2. Dukungan
  3. Membentuk tim dan kolaborasi
  4. Konseling & Koordinasi
  5. Assesmen & Pengumpulan Data

 
Perubahan dan perkembangan di masa depan itu dapat dilihat pula dalam bentuk pergeseran fokus garapan konseling di sekolah, yaitu pergeseran dari fokus yang bersifat individual ke fokus yang bersifat sistemik, seperti digambarkan di bawah ini.
Suatu Pergeseran Fokus
Fokus Individual
Fokus Sistemik
  1. Bekerja dalam isolasi

  1. Bekerja dengan masalah individu siswa.
  2. Banyak terlibat dalam kegiatan konseling sekolah.

  1. Hanya mengumpulkan data tentang proses.
  1. Tim dan kolabrorasi bersama semua stakeholders.
  2. Bekerja untuk membuat perubahan sistemik.
  3. Terlibat dalam ekstensif sebagai seorang pemimpin di sekolah dan masyarakat.
  4. Mengumpulkan data nyata tentang siswa dan hasil program.

Perbedaan antara Bimbingan Tradisional dan
 Bimbingan Perkembangan (Komprehensif)

Bimbingan Tradisional
Bimbingan Perkembangan
(Komprehensif)
  1. Bersifat reaktif

  1. Konseling menggunakan pendekatan krisis
  2. Hanya melakukan bimbingan atau konseling individu.
  3. Tidak semua siswa mendapatkan layanan.
  4. Menekankan layanan informasi, dan berorientasi pada tugas administratif.
  5. Program tidak terstruktur dan tidak terukur.

  1. Hanya dilakukan oleh konselor sendiri.
  1. Terencana dan didasarkan pada prioritas.
  2. Konseling menggunakan pendekatan preventif dan krisis.
  3. Melakukan bimbingan dan konseling kelompok.
  4. Semua siswa mendapatkan layanan.
  5. Menekankan program dasar dan berorientasi pada pencapaian tujuan.
  6. Programnya terstruktur, dievaluasi, dikembangkan berdasarkan hasil evaluasi.
  7. Dilakukan teamwork.
Perubahan dan perkembangan bimbingan dan konselig dari sekarang ke masa depan sudah terlihat dari tabel di atas

C.    Pola Bimbingan dan Konseling 17+

 Pengertian

Pola bimbingan dan konseling pola 17+ adalah pemberian bantuan kepada peserta didik melalui, 6 bidang bimbingan, 9 layanan, dan 6 layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.

Tujuan

Secara umum tujuan pola bimbingan dan konseling 17+ adalah membantu peserta didik mengenal bakat , minat , dan kemampuannya, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan, pendidikan, dan merencanakan karier yang sesuai dengan tuntutan kerja. Secara khusus bertujuan untuk membantu peserta didik agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi, social, belajar, dan karier.


 Fungsi

    Fungsi pemahaman, fungsi yang menghasilkan pemahaman peserta didik tentang diri dan lingkungan.

  Fungsi pencegahan, fungsi yang berupaya mencegah peserta didik agar tidak menemui permasalahan yang dapat mengganggu, menghambat, atau menimbulkan kesulitan dalam proses perkembangannya.

      Fungsi perbaikan, fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu peserta didik mengatasi berbagai permasalahan yang di hadapi.

      Fungsi pemeliharaan, fungsi yang bertujuan untuk menjaga agar perilaku peserta didik yang sudah baik jangan sampai rusak kembali.

       Fungsi pengembangan, fungsi dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik.

      Fungsi penyaluran, fungsi dalam membantu peserta didik untuk memilih dan memantapkan penguasaan karier yang sesuai dengan bakat, minat, keahlian, dan cirri-ciri kepribadiannya.

     Fungsi penyesuaian, fungsi dalam membantu peserta didik menemukan penyesuaian diri dan perkembangannya secara optimal.

      Fungsi adaptasi, fungsi yang membantu staf sekolah untuk mengadaptasikan program pengajaran dengan minat, kemampuan, serta kebutuhan peserta didik.






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bimbingan dan konseling pertama kali dikenal di Amerika dengan didirikannya Vodational Berou yang dipelopori oleh Frank Parson pada tahun 1908. Bertepatan dengan itu seorang konselor Jasse B. Davis  memasukkan layanan konseling di SMA di Detroid (1907). Lalu dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lain hingga perkembangannya pesat hingga di Indonesia.
BK perkembangan adalah Proses bantuan yang proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pribadi yang efektif – produktif, dan keberfungsiannya di dalam lingkungan melalui interaksi yang sehat. 
Pola bimbingan dan konseling pola 17+ adalah pemberian bantuan kepada peserta didik melalui, 6 bidang bimbingan, 9 layanan, dan 6 layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.









DAFTAR PUSTAKA



0 komentar: