Jumat, 19 Desember 2014

METODE PENELITIAN KUANTITATIF



Logo_Unnes



METODE PENELITIAN KUANTITATIF
 ( PROSES PENELITIAN, MASALAH, VARIABEL DAN PARADIGMA PENELITIAN )
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
 Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : Bu Maria Theresia Sri Hartati



                                                                 oleh
                    Kiftiyah Riris Novita               
               ( 1301413122 ) / Rombel 3

                                            


JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

         A.    Proses Penelitian Kuantitatif

 












Dari gambar tersebut dapat di jelaskan bahwa suatu penelitian berangkat dari masalah, namun masalah yang dibawa peneliti kuantitatif dan kualitatif berbeda. Dalam penelitian kuantitatif masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas, sedangkan masalah yang dibawa oleh peneliit kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan.
Setelah masalah telah diidentifikasikan dan dibatasi, maka selanjutnya masalaha tersebut dirumuskan.rumusan masalah pada umumnya dinaytakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian selanjutnya. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk menjawabnya. Jadi teori dalam penelitian kuantitatif ini akan digunakan untuk menjawabnya. Jadi teori yang dalam penelitian kuantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian tersebut. Jawaban terhadap rumusan masalah yang harus menggunakan teori tersebut dinamakan hipotesis, maka hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Hipotesis yang masih merupakan jawaban sementara terdapat rumusan masalah tersebut, selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris beerdasarkan data dari lapangan. Untuk itu peneliti melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Bila populasi terlalu luas, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu, dana dan tenaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Bila peneliti bermaksud membuat generalisasi, maka sampel yang diambil harus representatif, dengan teknik random sampling.  
Meneliti adalah mencari data yang teliti/akurat. Untuk itu peneliti perlu menggunakan intrumen penelitian. Dalam ilmu – ilmu alam, teknik, dan ilmu – ilmu empirik lainnya, intrumen penelitian yang akan digunakan untuk meneliti belum ada, sehingga peneliit ahrus membuat atau mengembangkan sendiri. Agar instrumen dapat dipercaya, maka harus diuji validitas dan relibilitasnya.
Setelah instrumen teruji valisitas dan reliabilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah ditetapkan untuk diteliti. Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk test dan nontest, untuk instrumen yang berbentuk nontest, dapat digunakan sebagai kuesioner, observasi dan wawancara.
Data yang telah terkumpul selanjutnay dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/ induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik parametris dan statistik nonparametris. Peneliit menggunakan statistik inferensial bila penelitian dilakukan pada sampel yang diambil secara random.
Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat menggunakan tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechart ( diagram lingkaran), dan pictogram. Pembahasan terhadap hasil penelitian merupakan penjelasan ynag mendalam dan interprestasi terhadap data – data yang etlah disajikan.
Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, maka selanjutnay dapat disimpulkan. Kesimpulannya berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data berdasarkan data yang telah terkumpul. Jadi kalau rumusan masalah ada lima, maka kesimpulannya juga ada lima. Karena peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran – saran. Melalui saran – saran tersebut diharapkan masalah dapat dipecahkan. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dialkukan.
Apabila hipotesis penelitian yang diajukan tidak terbukti, maka perlu dicek apakah ada yang salah dalam penngunaan teori, instrumen, pengumpulan, analisis data, atau rumusan masalah yang diajukan. 
    B.     Masalah
Seperti telah dikemukakan bahwa pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Untuk itu setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah. Seperti yang disampaikan oleh Emory (1985) bahwa, baik penelitian murni maupun terapan, hasilnya langsung dapat digunakan untuk membuat keputusan.
Jadi setiap penelitian yang akan dilakukan harus serba berangkat dari masalah, walaupun diakui bahwa memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian ( Tuckman, 198 ). Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul – betul masalah, maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50 % telah selesai. Oleh karena itu menemukan masalah dalam penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah masalah dapat ditemukan, maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakukan.
    1.      Sumber Masalah
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar – benar terjadi, antara rencana dengan pelaksanaan. Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah – masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan degan kenyataan.
   a.      Terdapat penyimpangan antara pengalaman denagn kenyataan
Orang yang biasanya menjadi pimpinan pada bidang pemerintahan harus berubah ke bidang pendidikan. Hal ini pada awalnya tentu akan muncul masalah. Oarnag atau kelompok yang biasanya mengelola pendidiakn dengan sistem sentralisasi lalu berubah menjadi desentralisasi, atau dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) maka akan muncul masalah. Orang biasanya menulis dengan mesin ketik manual harus ganti dengan komputer, maka akan muncul masalah. Apakah masalahnya sehingga perlu perubahan. Apakah masalahnya dengan sistem sentralisasi, sehingga perlu berubah menjadi disentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Apakah masalahnya sehingga kebijakan pendidikan selalu berubah, ganti mentri, ganti kebijakan? Apakah masalahnya setelah terjadi perubahan.
   b.      Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan
Suatu rencana yang telah ditetapkan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan tujuan dari rencana tersebut, maka tentu ada masalh. Mungkin masih ingat pada era orde baru direncanakan pada tahun 2000 Bangsa Indonesia akan tinggal landas tapi pada kenyataannya tidak, sehingga muncul masalah. Dengan adanya reformasi diharapkan harga – harga akan turun, ternyata tidak sehingga muncul masalah. Direncanakan dengan adanya penataran pengawasan melekat, maka akan terjadi penurunan dalam jumlah KKN, tetapi ternyata tidak sehingga timbul masalah. Dengan kebijakan MBS, kualitas pendidikan akan meningkat, tetapi ternyata belum terlihat. Apakah masalahnya sehingga apa yang telah direncanakan tidak menghasilkan kenyataan. Jadi untuk menemukan masalah dapat diperoleh dengan cara melihat dari adanya penyimpangan antara yang direncanakan dengan kenyataan.
   c.       Ada Pengaduan
Dalam suatu organisasi sekolah yang tadinay tenang tidak ada masalah, ternyata setelah ada pihak tertentu yang tadinya tenang tidak ada masalah, ternyata setelah ada pihak tertentu yang mengadukan produk maupun pelayanan yang diberikan, maka timbul masalah dalam organisasi itu. Pikiran pembaca yang dimuat dalam koran atau majalah yang mengadukan kualitas produk atau pelayanan suatu lembaga.pendidikan, dapat dipandang sebagai masalah, karena diadukan lewat media sehingga banyak orang yang menjadi tahu akan kualitas produk an kualitas pelayanan yang diberikan. Dengan demikian orang tidak akan membeli lagi atau tidak menggunakan jasa lembaga itu lagi. Demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap suatu sekolah atau perguruan tinggi juga dapat menimbulkan masalah. Dengan demikian masalah penelitian dapat digali dengan cara menganalisis isi pengaduan.
   d.      Ada kompetisi
Adanya saingan atau kompetisi sering dapat menimbulkan masalah besar, bila tidak dapat memanfaatkan untuk kerja sama. Perusahaan pos dan giro merasa mempunyai masalah setelah ada biro jasa lain yang menerima titipan surat, titipan barang, ada hand phone yang dapat digunakan untuk SMS, internet, e – mail. Perusahaan keret api memandang angkutan umum jalan raya dengan Bus sebagai pesaing, sehingga menimbulkan masalah. Tetapi mungkin PT. Telkom kurang mempunyai masalah karena tidak ada perusahaan lain yang memberikan jasa yang sama lewat telephone kabel, tetapi menjadi masalah setelah ada saingan telephone genggam ( hand phone ). Dalam pendidikan, lembaga – lembaga pendidikan yang selama ini unggul didalam negeri, akan timbul masalah setelah ada perguruan tinggi asing boleh beroperasi di Indonesia.
Dalam proposal penelitian setiap masalah harus ditunjukkan dengan data. Misalnya penelitian tenatang SDM, maka masalahn SDM, harus ditunjukkan dengan data. Masalah SDM misalnya, jumlah SDM yang terbatas, jenjang pendidikan yang rendah, kompetensi dan produktivitas yang masih rendah. Data masalah dapat diperoleh dari hasil pengamatan pendahuluan terhadap hasil penelitian orang lain, atau dari dokumentasi. Data yang diberikan harus up to date, lengkap dan akurat. Jumlah data masalah yang dikemukakan tegantung paada jumlah variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Kalau penelitian berkenaan dengan 5 variabel,maka data masalah yang dekemukakan minimal 5. Tanpa menunjukkan dat, maka masalah yang dikemukakan dalam penelitian tidak akan dipercaya.
    C.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu meruakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dibicarakan jawabannya melalui pengumpulan data. Namun demikian terdapat kaitan erat antara masalah dan rumusan masalah, karena setiap rumusan masalaah penelitian harus didasarkan pada masalah.
1.      Bentuk – bentuk Rumusan Masalah Penelitian
Bentuk masalah dapat dikelompokkan kedalam bentuk masalah deskriptif, kompratif dan asosiatif.
a.      Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya satu variabel maupun lebih ( variabel yang berdiri sendiri ). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandinagn variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu denagn variabel yang lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian deskriptif.
Contoh rumusan masalah Deskriptif :
   1)      Seberapa baik kinerja departemen pendidikan Nasional?
   2)      Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi Negeri Berbadan Hukum?
   3)      Seberapa tinggi efektivitas kebijakkan manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia.
  4) Seberapa tinggi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah daerah dibidang pendidikan.
   5)     Seberapa tinggi tingkat produktivitas dan keuntungan finansial Unit Produksi pada sekolah – sekolah Kejuruan?
   6)      Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata – rata per hari murid – murid sekolah di indonesia.
Dari beberapa contoh diatas terlihat bahwa setiap pertanyaan penelitian berkenaan dengan satu variabel atau lebih secara mandiri (bandingkan dengan masalah komparatif dan asosiatif).
Peneliti yang bermaksud mengetahui kinerja Departemen pendidikan Nasional, sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi berbadan hukum, efektifitas kebijakan MBS, tingkat produktivitas dan keuntungan finansial Unit produksi pada sekolah – sekolah kejuruan, minat membaca dan lama belajar rata – rata hari murid – murid sekolah di indonesia adalah contoh penelitian deskriptif.
b.      Rumusan Masalah Komperatif
Rumusan Komperatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.
  1)      Adakah perbedaan antara prestasi belajar antara murid dari sekolah negeri dan swasta? Variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu sekolah negeri dan swasta).
  2)      Adakah perbedaan disiplin kerja guru antara sekolah di kota dengan di desa? ( satu variabel dua sampel ).
  3)      Adakah perbedaan antara motivasi belajar dan hasil belajar antara murid yang berasal murid yang berasal dari keluarga Guru, Pegawai swasta dan Pedagang? ( dua variabel tiga sampel)
  4)      Adakah perbedaan kompetensi profesional guru dan kepala sekolah antara SD, SMP, SLTA. ( satu variabel untuk dua kelompok , tiga sampel )
  5)      Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dari sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Menengah Atas.
  6)      Adakah perbedaan produktifitas karya ilmiah antara perguruan Tinggi Negeri dan Swasta ( satu variabel dua sampel )
c.       Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antar dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu : hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif / resiprocal / timbal balik.
  1)      Hubungan Simetris
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Berarti bukan hubungan kausal atau interaktif, contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
a)      Adakah hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah? ( variabel pertama adalah penjualan es dan kedua adalah kejahatan ) hal ini berarti yang menyebabkan jumlah kejahatan bukan karena es yang terjual, mungkin logikanya adalah sebagai berikut. Pada es banyak terjual itu pada musim liburan sekolah, pada saat murid – murid banyak yang piknik ketempat wisata. Karena banyak murid yang piknik maka disitu banyak kejahatan
b)      Adakah hubungan antara rumah yang deket rel kereta api dnegan jumlah anak?
c)      Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan dengan kemampuan memimpin sekolah?
d)     Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan dengan murid sekolah?
e)      Adakah hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah penduduk yang sekolah?
Contoh judul penelitiannya adalah sebagai berikut.
1.      Hubungan antara jumlah es dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah.
2.      Hubungan antara rumah yang dekat dengan rel kereta api dengan jumlah anak
3.      Jumlah antar jumlah warna rambut dengan dengan kemampuan memimpin sekolah
4.      Hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah penduduk yang sekolah.
2)      Hubungan Kausal.
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat jadi disini ada variabel independen ( variabel yang mempenagruhi ) dan dependen ( dipengaruhi ), contoh :
a)      Adakah pengaruh pendidikan orang tua dengan prestasi – prestasi belajar anak ? ( pendidikan orang tua variabel independen dan prestasi belajar variabel dependen )
b)      Seberapa besar penagaruh kepemimpinan kepala SMK terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan? (kepemimpinan variabel independen dan kecepatan memperoleh pekerjaan variabel dependen)
c)      Seberapa besar pengaruh tata ruang kelas terhadap efesiensi pembelajaran di SMA?
d)     Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah? ( kurikulum, media dan kualitas guru sebagai variabel independen dan kualitas SDM sebagai variabel dependen )
Contoh judul penelitianya:
a)      Pengaruh pendidiakn orang tua terhadap prestasi belajar anak SD kabupaten Alengkapura
b)      Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan pada SMK di provinsi Indrakila
c)      Pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah.
3)       Hubungan Interaktif/ resiprocal/ timbal balik.
Hubungan interaktif adalah hubunagn yang saling mempenagruhi. Disini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, Contoh :
a)      Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di kecamatan A. Di sini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi tetapi juga prestasi dapat mempengaruhi motivasi.
b)      Hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan. Kecerdasan dapat menyebabkan kaya, demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan kecerdasan karena gizi terpenuhi.

D. Variabel Penelitian
1.      Pengertian
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dapat didefinisikan sebagai atribusi seseorang, atau obyek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain(Hatch dan Farhady, 1981).
Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut dari obyek. Struktur organisasi, model pendelegasian, kepemimpinan, pengawasan, koordinasi, prosedur dan mekanisme kerja, deskripsi pekerjaan, kebijakan, adalah merupakan contoh variabel dalam kegiatan administrasi pendidikan.
Kerlinger(1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstrak (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian variabel itu merupakan suatu hal yang bervariasi. Selanjutnya Kidder(1981), menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka dapat dirumuskan disini bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
2.      Macam-macam Variabel
Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain  maka macam- macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:
a.       Variabel Independen: variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, anteceden atau Variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel independen (terikat). Dalam SEM (structural equation modeling) pemodalan persamaan Struktural, variabel independen disebut sebagai variabel eksogen.
b.      Variabel dependen: sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen atau Variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam SEM (structural equation modeling) pemodelan persamaan struktural, variabel dependen disebut sebagai variabel indogen.
 





Gambar 2.2. contoh hubungan variabel independen-dependen
c.       Variabel moderator: variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan mamperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabel disebut juga sebagai variabel independen ke dua. Hubungan perilaku suami dan istri akan semakin baik (kuat) kalau mempunyai anak, dan akan semakin renggang kalau ada fihak ketiga ikut mencampuri. Disini anak adalah sebagai variabel moderator yang memperkuat hubungan, dan fihak ketiga adalah sebagai variabel moderator yang memperlemah hubungan, hubungan motivasi dan prestasi belajar akan semakin kuat bila peranan guru dalam menciptakan iklim belajar sangat baik, dan hubungan semakin rendah bila peranan guru kurang baik dalam menciptakan iklim belajar.


 







Gambar 2.3.a contoh hubungan variabel independen-moderator, dependen
 







Gambar 2.3.b contoh hubungan variabel independen-moderator, dependen
d.      Variabel intervening: Tuckman (1988) menyatakan “An intervening variable is that factor that theoretically affect the observed phenomenon but cannot be seen, measure, or manipulate”. Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.


 








Gambar 2.3. contoh hubungan variabel independen-moderator-intervening, dependen.
e.       Variabel kontrol: adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
 





Gambar 2.4. contoh hubungan variabel indepenmden-kontrol, dependen
Untuk dapat menentukan kedudukan variabel independen, dan dependen, moderator, intervening atau variabel yang lain, harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengamatan yang empiris di tempat penelitian. Untuk itu sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan diteliti perlu melekukan kajian teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada obyek yang akan diteliti. Dalam penelitian kualitatif hubungan antara semua variabel tersebut akan diamati, karena penelitian kualitatif berasumsi bahwa gejala itu tidak dapat diklasifikasikan, tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (holistic).
E. Paradigma Penelitian
Dalam penelitian kuantitatif/positivistik, yang dilandasi pada suatu asumsi bahwa suatu gejala itu dapat diklasifikasikan dan hubungan gejala besifat kausal(sebab akibat), maka peneliti dapat melakukan penelitian dfengan memfokuskan kepada beberapa variabel saja.pola hubungan antar variabel yang akan diteliti tersebut selanjutnya disebut dengan paradigma penelitian.
Jadi paradigma penelitian dalam hal ini diartikan sebagai pola pikir yang menunjukan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis dan teknik analisis statistik yang digunakan. Bentuk-bentuk paradigma atau model penelitian kuantitatif khususnya untuk penelitian survey seperti berikut :
1.      Paradigma sederhana
Paradigma penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen. Dapat digambarkan sebagai berikut :
Rounded Rectangle: YRounded Rectangle: X  

X = Kualitas Guru                              Y = Prestasi Belajar Murid
Berdasarkan paradigma tersebut, maka dapat detentukan :
a.       Jumlah rumusan masalah deskriptif ada dua dan asosiatif ada satu yaitu :
1.      Rumusan masalah deskriptif (dua)
a) Bagaimana X? (kualitas guru)
b) Bagaimana Y? (prestasi belajar murid)
2. Rumusan masalah asosiatif/hubungan (satu)
Bagaimanakah hubungan atau pengaruh kualitas alat dengan kualitas barang yang di hasilkan
b.      Teori yang digunakan ada dua, yaitu teori tentang media pendidikan dan prestasi belajar
c.       Hipotesis yang di rumuskan ada dua macam hipotesis  deskriptif dan hipotesis asosiatif.
1)      Dua hipotesis deskriptif : (jarang di rumusakan dalam penelitian)
a)      Kualitas media yang digunakan oleh lembaga pendidikan tersebut telah mencapai 70% baik
b)      Presentasi belajar siswa lembaga pendidikan tersebut telah mencapai 99% dari yang diharapkan
2)      Hipotesis asosiatif
Ada hubungan yang positifdan signifikan antara kualitas media pendidikan dengan presentasi belajar murid. Hal ini berarti bila kualitas media pendidikan  di tingkatkan, maka prestasi belajar murid akan meningkat pada gradasi yang tinggi ( kata signifikan hanya digunakan apabila hasil uji hipotesis akan digeneralisasikan ke populasi dimana sampel tersebut diambil).
d.      Teknik analisis data
Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis tersebut, maka dapat dengan mudah ditentukan teknik satistik yang digunakan untuk analisis data dan menguji hipotesis.
1)      Untuk dua hipotesis deskriptif, bila datanyan berbentuk interval dan ratio, maka pengujian hipotesis menggunakan t-test one sampel.
2)      Untuk hipotesis asosiatif, bila data ke dua variabel berbentuk interval atau ratio, maka menggunakan teknik statistik korelasi product moment.

2.      Paradigma Sederhana Berurutan
Dalam paradigma ini terdapat lebih dari dua variabel, tetapi bubungan nya masih sederhana.
Rounded Rectangle: X1Rounded Rectangle: X2

Rounded Rectangle: X3

Rounded Rectangle: Y  

X1 = kualitas input
X2 = kualitas proses
X3 = kualitas output
Y = kualitas outcome
Paradigma sederhana menunjukan hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabeldependen secara berurutan. Untuk mencari hubungan antara variabel tersebut digunakan teknik korelasi sederhana.
3.      Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen
Rounded Rectangle: X1Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen dan satu dependen. Dalam paradigma. Dalam paradigma ini terdapat 3 rumusan masalah deskriptif, dan 4 rumusan masalah asosiatif.
Rounded Rectangle: Y                                                                                   r1
r3                                             R
Rounded Rectangle: X2                                     r2                                            

X1 = Kompetensi Guru;     Y = prestasi belajar murid;
X2 = Lingkungan sekolah;

4.                  Paradigma Ganda dengan Tiga Variabel Independen
     Dalam paradigma ini terdapat tiga variabel independen (X1,X2,X3) dan satu dependen (Y).
Rounded Rectangle: X1     Rumusan masalah deskriptif ada 4 dan rumusan masalah asosiatif (hubungan) untuk yang sederhana ada 6 dan yang ganda minimal 1. (r4 r5)
Rounded Rectangle: YRounded Rectangle: X3Rounded Rectangle: X2                                    r1                                                            
 r6                                       R       r2
                                    r3                                                

X1 = kualitas mesin;                X3  = Etos belajar;
X2 = pengalaman kerja;           Y   = produktivitas kerja
Paradigma ganda dengan tiga variabel independen

5.    Rounded Rectangle: Y1Paradigma Ganda dengan Variabel Dependen
 





X = tingkat pendidikan           Y1 = karir di tempat kerja
Y2 = disiplin kerja

6.    Paradigma ganda dengan dua variabel independen dan dua dependen
Rounded Rectangle: Y1Rounded Rectangle: X1Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen (X1,X2) dan dua variabel dependen (Y1 dan Y2). Terdapat 4 rumusan masalah diskriptif, dan 6 rumusan masalah hubungan sederhana. Korelasi dan regfresi ganda juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel secara simultan.
 





X1 = keindahan kampus         Y1 = jumlah pendaftar
X2 = pelayanan sekolah          Y2 = kepuasan pelayanan

7.    Rounded Rectangle: X1Paradigma Jalur
Rounded Rectangle: YRounded Rectangle: X3Rounded Rectangle: X2                                    
  0,30                                      



Bentuk-bentuk paradigma penelitian yang lain masih cukup banyak, dan contoh-contoh yang diberikan terutama dikaitkan dengan teknik statistik yang dapat digunakan. Teknik statistik yang bersifat menguji perbedaan tidak tercermin pada paradigma yang telah diberikan, tapi akan lebih tampak pada paradigma penelitian dengan metode eksperimen. Dalam eksperimen misalnya akan dapat diuji hipotesis yang menyatakan ada tidaknya perbedaan produtivitas kerja antara lembaga yang dipimpin pria dan wanita.
SEM merupakan metode statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis yang terstruktur. Hipotesis yang dirumuskan merupakan hubungan banyak variabel yang bersifat kausal. Prosedur SEM mempunyai dua hal yang penting yaitu :
  1. Hubungan kausal yang terjadi merupakan hubungan stuktural yang berseri dengan menggunakan persamaan regresi
  2. Hubungan kausal dapat disusun dalam model berupa gambar sehingga mudah difahami
Hipotesis yang merupakan hubungan struktural tersebut dapat diuji dengan statistik secara serempak.
F. Menemukan Masalah
            Untuk menemukan masalah dapat dilakukan dengan cara melakukan analisa masalah, yaitu dengan bantuan menyusun ke dalam pohon masalah. Dengan analisa masalah, maka permasalahan dapat diketahui mana masalah yang penting, yang kurang penting dan yang tidak pentingmelalui analisis masalah ini juga dapat diketahui akar-akar permasalahannya.
            Untuk dapat menganalisis masalah, maka pertama peneliti harus mampu mendudukkan masalah dalam konteks keseluruhan secara sistemik, dalam konteks tersebut akan terlihat hubungan antara satu masalah dengan masalah yang lain, baik masalah yang mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung. Berikut contoh dikemukakan analisis masalah tentang kualitas lulusan dalam satuan pendidikann tertentu. Pada gambar 2.15 berikut dikemukakan sistem pendidikan pada tingkat kelas, yang terdiri atas input, proses (interaksi antara murid, kurikulum, guru,sarana pendidikan dan ruangkelas/tempat), sistem evaluasi belajar, dan output yang berupa lulusan. Melalui gambar berikut, masalah kualitas hasil lulusan yang rendah misalnya akan dapat dianalisis tentang faktor-faktor yang mempengaruhi.







Rounded Rectangle: Kualitas input Rounded Rectangle: Guru
 





Rounded Rectangle: Sarana Pendidikan 



Gambar 2.15. Pendidikan sebagai suatu sistem, berguna untuk melakukan pendidikan analisis masalah pendidikan.
            Rendahnya kualitas hasil pendidikan yang berupa kualitas lulusan, secara langsung dipengaruhi oleh proses belajar mengajar dan potensi dasar murid. Pengaruh yang langsung terhadap kualitas lulusan adalah potensi anak dasar, performance guru, kualitas kurikulum,ketersediaan sarana dana prasarana pembelajaran, dan tata ruang kelas, dan kualitas evaluasi.dari variable yang secara langsung dipengaruhi kualitas lulusan tersebut. Selanjutnya diberi penilaian terhadap setiap variable yang diduga berpengaruh kuat, penting dan menarik dalam mempengaruhi kualitas hasil belajar. Variable yang demikian tersebut selanjutnya ditetapkan oleh peneliti untuk dipeljari, baik dari aspke kualitas setiap variable, maupun hubungan antara satu variable dengan variabel lain. Berdasarkan analisis tersebut peneliti menyusun paradigma/model penelitianya seperti gambar 2.16. berikut. Judul penelitiannya : pengaruh kualitas input murid, kurikulum, guru, sarana, dan prasarana, serta sistem evaluasi terhadap kualitas lulusan.



 









                                                                                                              



Gambar 2.16. Model penelitian, hasil dari analisis masalah.



Pertanyaan :
1.      Dalam macam-macam variable ada variable independen yg sering disebut variable predictor, stimulus, dan antecedent, penjelasan dari itu bagaimana?
2.      Beberapa aspek dari SEM merupakan bagian dari konsep lama yaitu prosedur multivariate, yang bersifat confirmatory dan ekploratory, itu yang bagaimana?
3.      Apakah yang dimaksud dengan masalah penelitian ? Apakah ada perbedaan antara masalah penelitian dan masalah yang bukan penelitian ?
4.      Jelaskan pada bagian paradigma jalur tentang teknik statistika yang bersifat menguji perbedaan tidak tercermin pada paradigma yang telah di berikan, tetapi akan lebih tampak pada paradigma penelitian dengan metode penelitian.
5.      Kapan variabel independen digunakan?
6.      Jelaskan secara singkat dan jelas tentang paradigma ganda dengan dua variabel independen dan dua dependen.


0 komentar: