JENIS BIMBINGAN
SERTA MODEL DAN POLA LAYANAN BK
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah
Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengampu : Bapak Sigit Hariyadi
Oleh :
Kiftiyah
Riris Novita ( 1301413122 )
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya,
makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini kami susun dengan sumber yang
sebenar-benarnya dan dapat dipertanggung jawabkan.
Terima
kasih penulis sampaikan kepada Bapak Sigit Hariyadi, S.pd yang telah membimbing
kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Tentu masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Baik dalam hal
bahasa maupun penguasaan materi secara komprehensif. Kritik dan saran yang
membangun diharapkan oleh penulis demi perbaikan makalah ini. Semoga makalah
yang telah kami buat dapat bermanfaat dengan baik, amin.
Semarang,
22 Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang...............................................................................
1
B. Rumusan
Masalah...........................................................................1
C. Tujuan.............................................................................................1
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Jenis-Jenis
Bimbingan.....................................................................
2
B. Model-Model
Bombingan................................................................7
C. Teori - Teori
Dalam Interaksi Sosial................................................9
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................10
B.
Saran..............................................................................................10
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar
Belakang
Pada dasarnya profesi konselor adalah profesi
seorang ahli di bidang konseling. Untuk menjadi seorang ahli bukanlah hal yang
sepele. Kita harus sudah memahami betul dasar keilmuan tentang konseling. Salah
satunya adalah tentang bimbingan dan layanan dalam Bimbingan dan Konseling.
Kita pasti seringkali mendengar tentang praktek para
guru BK yang tidak sesuai dengan profesinya. Hal ini tentu disebabkan oleh
beberapa hal, di antaranya adalah kurangnya ilmu mereka. Pada bab ini, kita
akan membahas mengenai jenis bimbingan serta model dan pola layanan dalam
Bimbingan dan Konseling.
- Rumusan
Masalah
Lingkup pembahasan dalam makalah ini diantaranya :
1. Apa
saja jenis-jenis bimbingan berdasarkan bentuk, sifat, dan ragam?
2. Apa
saja model-model dalam Bimbingan dan Konseling?
3. Apa
saja pola dasar dalam layanan BK?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk
memenuhi salah-satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling dan
untuk mengetahui penjelasan dari berbagai pokok pembahasan yaitu :
1.
Jenis-jenis bimbingan berdasarkan
bentuk, sifat, dan ragam
2.
Model-model dalam Bimbingan dan
Konseling
3.
Pola dasar dalam layanan BK
BAB
I
PEMBAHASAN
A. JENIS –
JENIS BIMBINGAN
Bimbingan dan konseling terbagi atas
beberap jenis berdasarkan sudut pandang tertentu. Jenis bimbingan pada dasarnya
terdiri atas tiga jenis, yaitu berdasarkan bentuk bimbingan, sifat bimbingan, dan
ragam bimbingan.
1. Bentuk
Bimbingan
Bentuk bimbingan lebih mengarah pada jumlah orang/individu yang diberikan
bimbingan. Bimbingan terbagi menjadi
dua, bimbingan individual dan bimbingan kelompok.
Bimbingan individual dilakukan bila
siswa yang dibimbing satu orang dan disalurkan melalui bimbingan perorangan
yang lebih mengarah pada kegiatan konseling individual. Sedangkan bimbingan
kelompok adalah bimbingan yang diberikan kepada sekelompok siswa atau orang.
Bimbingan kelompok kecil biasanya dilakukan dengan cara berdiskusi untuk
menyampaikan suatu hal yang bersifat kebenaran.
2.
Sifat Bimbingan
Pelayanan
bimbingan dan konseling mempunyai sejumlah sifat yang seharusnya dipenuhi
melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Seperti yang dikemukakan oleh Nurihsan
A. J. dan Sudianto A. (2004:13-14) mengenai 5 macam sifat Bimbingan dan
Konseling berikut
ini:
a.
Pencegahan.
Bimbingan dan Konseling berusaha
mencegah siswa dari berbagai masalah yang mungkin timbul, yang dapat
mengganggu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu
dalam proses perkembangannya. Misalnya penerangan tentang narkoba, seks
bebas, kesehatan produksi, dll.
b. Penyembuhan.
Bimbingan
dan Konseling diusahakan mampu mengatasi berbagai permasalahan yang dialami
oleh siswa.
c. Perbaikan.
Bimbingan dan Konseling hendaknya memperbaiki kondisi siswa dari
permasalahan yang dihadapinya sehingga dapat berkembang secara optimal.
d. Pemeliharaan.
Bimbingan dan Konseling bersifat memelihara kondisi individu yang sudah
baik agar tetap baik. Misalnya mendampingi perkembangan pemikiran yang ada
ke arah positif, pendampingan perilaku agar tidak menyimpang, dll.
e. Pengembangan.
Bimbingan dan Konseling bersifat mengembangkan berbagai potensi dan kondisi
positif individu dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan
berkelanjutan.
3. Ragam
Bimbingan
Ragam bimbingan menunjuk pada bidang kehidupan
tertentu atau aspek perkembangan tertentu yang menjadi fokus perhatian dalam
pelayanan bimbingan atau tentang apa yang diberikan. Ada 5 ragam bimbingan,
yaitu:
a. Bimbingan
belajar dan pendidikan (Educational Guidance)
Bimbingan ini adalah bimbingan dalam menemukan cara
belajar yang tepat untuk mengatasi kesukaran-kesukaran mengenai belajar dan
dalam memilih jenis atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan siswa. Sedangkan
bimbingan pendidikan ialah bantuan yang diberikan kepada siswa agar siswa dapat
memilih program yang sesuai untuk dirinya dan mencari kemajuan melalui program
yang dipilihnya.
Bimbingan pendidikan mempunyai kaitan langsung
dengan proses belajar mengajar, sehingga setiap pelayanan bimbingan harus
sesuai dengan proses pengajarannya seperti cara seleksi, penempatan, proses
belajar mengajar, evaluasi, input lingkungan, dsb.
Program bimbingan di bidang belajar akademik akan
memuat unsur-unsur sebagai berikut:
1) Orientasi
kepada siswa dan mahasiswa baru tentang tujuan institusional, isi kurikulum
pengajaran, struktur organisasi sekolah, prosedur belajar yang tepat, dan
penyesuaian diri dengan corak pendidikan di sekolah bersangkutan.
2) Penyadaran
kembali secara berkala tentang cara belajar yang tepat selama mengikuti
pelajaran di sekolah dan selama belajar di rumah secara individual atau secara
kelompok.
3) Bantuan
dalam hal memilih program studi yang sesuai, memilih beraneka kegiatan non
akademik yang menunjang usaha belajar, dan memilih program studi lanjutan di
tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
4) Pengumpulan
data tentang siswa mengenai kemampuan intelektual, bakat khusus, arah
minat, serta cita-cita hidup; dan pengumpulan data tentang program studi di
perguruan tinggi yang tersedia dalam bentuk brosur, buku pedoman baru, kliping
iklan di surat kabar, dsb.
5) Bantuan
dalam hal mengatasi beraneka kesulitan belajar, seperti kurang mampu menyusun
dan menaati jadwal belajar di rumah, kurang siap menghadapi ujian dan ulangan,
kurang dapat berkonsentrasi, dsb.
6) Bantuan
dalam hal membentuk berbagai kelompok belajar dan mengatur seluruh kegiatan
belajar kelompok, supaya belajar efisien dan efektif.
b. Bimbingan pekerjaan
(Vocational Guidance)
Bimbingan ini adalah proses bantuan terhadap seseorang sehingga orang
tersebut mengerti dan menerima gambaran tentang diri pribadinya dan gambaran
tentang dunia kerjanya serta mempertemukan keduanya, sehingga akhirnya dapat
mempersiapkan diri dalam memasuki bidang kera tertentu dan membina diri dalam
bidang pekerjaan tersebut (Simposium Bimbingan Jabatan). Sedangkan menurut
Kurikulum 1984 merumuskan bimbingan jabatan sebagai bimbingan karir yang
berarti proses bantuan kepada individu agar memperoleh pemahaman diri dan dunia
kerja, agar ia mampu mengarahkan diri ke suatu bidang kehidupan yang sesuai dan
selaras dengan dirinya dan masyarakat. Kegiatan dalam
bimbingan pekerjaan antara lain:
1) Mengenal berbagai jenis pekejaan
yang mungkin dapat dimasuki oleh tamatan pendidikan tertentu.
2) Mengenal berbagai jenis pendidikan atau latihan tertentu untuk jenis
pekerjaan tertentu.
3) Mengenal berbagai jenis pekerjaan dengan segala syarat-syarat dan
kondisinya.
4) Menyelenggarakan latihan-latihan
tertentu bagi jenis –jenis pekerjaan tertentu.
5) Membantu memperoleh suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dirinya.
6) Membantu memperoleh penyesuaian diri yang sebaik baiknyadalam lapangan
pekerjaan tertentu.
7) Membantu dalam mendapatkan pekerjaan sambilan bagio yang membutuhkannya.
Bimbingan ini dapat dilihat dari 2 pendekatan yaitu, pendekatan yang
berpusat pada masalah dan yang berpusat pada pengembangan. Pendekatan masalah
memiliki 5 teknik, yaitu:
1)
Penyembuhan (remidiation)
2)
Penawaran jabatan (career selling)
3)
Kesadaran diri terhadap karir (career self
awareness)
4)
Mencari pekerjaan itu sendiri (job seeking)
5)
Anti diskriminasi
Teknik di atas didasarkan pada asumsi bahwa individu memiliki masalah dalam
memilih karir. Kelima teknik itu dapat dipilih dan dipadukan sesuai dengan pertimbangan
kebutuhan konseling. Sedangkan pendekatan pengembangan berdasarkan pada sasaran
pengembangan karir di sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi.
c. Bimbingan
pribadi dan sosial
Bimbingan ini dikaitkan dengan pengembangan pribadi siswa dan hubungannya
dengan orang lain. Semakin dewasa individu semakin banyak masalah pribadi dan
sosial yang mereka hadapi. Bimbingan pribadi sosial mengandung unsur-unsur
sebagai berikut:
1)
Informasi tentang fase atau tahap perkembangan yang
sedang dilalui oleh siswa dan mahasiswa, antara lain tentang konflik batin yang
dapat timbul dan tentang tata cara bergaul yang baik.
2)
Penyadaran akan keadaan masyarakat dewasa ini, yang
semakin berkembang ke arah masyarakat modern, antara lain apa ciri-ciri
kehidupan modern, dan apa makna ilmu pengetahuan serta teknologi bagi kehidupan
manusia.
3)
Pengaturan diskusi kelompokmengenai kesulitan yang
dialami oleh kebanyakan siswa dan mahasiswa, misalnya menghadapi orang tua yang
taraf pendididikannya lebih rendah daripada anak-anaknya.
4)
Pengumpulan data yang relevan untuk mengenal
kepribadian siswa, misalnya sifat-sifat kepribadian yang tampak dalam tingkah
laku, latar belakang keluarga dan keadaan kesehatan.
d. Bimbingan
Keluarga
Bimbingan keluarga merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu
sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga
yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan
dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan aktif dalam
memcapai kehidupan keluarga yang bahagia.
e. Bimbingan
dalam Menggunakan Waktu Senggang
Bimbingan ini diberikan kepada individu-individu dalam hal bagaimana dalam
menggunakan waktu senggangnya, sehingga dapat diisi dengan kegiatan-kegiatan
yang bermanfaat/produktif, misalnya:
1)
Membantu siswa bagaimana merencanakan penggunaan waktu
senggangnya.
2)
Membantu siswa bagaimana dalam menggunakan waktu libur
secara efisien dan efektif.
3)
Membantu siswa dalam mengisi waktu-waktu kosong pada
hari/jam sekolah.
B. MODEL-MODEL BIMBINGAN
1.
Frank Parsons, menciptakan istilah Vocational Guidance yang menekankan
ragam jabatan bimbingan dengan menganalisis diri sendiri, analisis terhadap
bidang pekerjaan, serta memedulikan keduanya dengan berfikir rasional dan
mengutamakan kompenen bimbingan pengumpulan data serta wawancara konseling.
2.
William M. Proctor mengembangkan model bimbingan dan mengenalkan
dua fungsi yaitu fungsi penyaluran dan fungsi penyesuaian menyangkut bantuan
yang diberikan kepada sisiwa dalam memilih progam studi, membantu mengambil
langkah dalam mencapai cita-cita yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan
siswa.
3.
John M. Brewer mengembangkan ragam bimbingan seperti
bimbingan belajar, bimbingan rekreasi, bimbingan kesehatan, bimbingan moral dan
bimbingan perkembangan.
4.
Donal G. Patterson dikenal dengan metode klinis yang
menekankan perlunya menggunakan teknik-teknik untuk mengenal konseli dengan
menggunakan tes psikologi dan studi diagnostik.
5.
Wilson Little dan AL. Champman menekankan perlunya
bimbingan dalam memberikan bantuan kepada semua siswa dalam aspek perkembangan
siswa dalam bidang studi akademik dalam mempersiapkan diri memangku suatu
jabatan dan dalam mengolah pengalaman batin dan pergaulan social. Model ini
menggunakan bentuk pelayanan individual dan kelompok, mengutamakan sifat
bimbingan preventive dan perseveratif dan melayani bimbingan belajar, jabatan
dan bimbingan pribadi.
6.
Kennet B. Hoyt mendeskripsikan model bimbingan
mencakup sejumlah kegiatan bimbingan dalam rangka melayani kebutuhan siswa.
Model ini menekankan pelayanan individual dan kelompok dan memungkinkan
pelayanan yang bersifat preventif, perseveratif, dan remedial dan mengutamakan
ragam bimbingan belajar dan individu.
7.
Ruth Strabf berpandangan menyangkut bimbingan melalui
wawancara konseling. Model ini menekankan bentuk pelayanan individu dan
pelayanan secara kelompok dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan
dan wawancara konseling.
8.
Arthur J. Jones menekankan pelayanan bimbingan sebagai
bantuan kepada siswa dalam menentukan pilihan-pilihan dan dalam penyesuain
diri. Bantuan ini terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut bidang studi
akademik dan bidang pekerjaan. Model ini juga menekankan bentuk pelayanan,
mengutamakan ragam bimbingan belajar serta bimbingan jabatatan dan
memberi tekanan pada komponen bimbingan penenpatan dan pengumpulan data
serta wawancara.
9.
Chris D. Kehas merumuskan tujuan pendidikan di sekolah
adalah pada perkembangan kepribadian peserta didik, tetapi pada kenyataannya
hanya aspek intelektual saja yang diperhatikan. Dengan demikian tenaga-tenaga
bimbingan hanyalah berfungsi dalam rangka meningkatkan efektifitas proses
belajar mengajar di kelas.
10. Ralp Moser
dan Norman A. Srinthall mengajukan usul agar di sekolah diberi pendidikan
psikologi yang dirancang guna menunjang perkembangan kepribadian para siswa.
Dengan model tersebut, Pelayanan bimbingan tidak hanya dibatasi pada mereka
yang melakukan konseling pada konselor, akan tatapi samapai pada semua siswa
yang mengikuti pendidikan psikologis.
11. Julius
Menacker (1976), model ini menekankan pada usaha mengadakan perubahan pada
lingkungan hidup serta mengatasi masalah yan menghambat perkembangan yang
optimal bagi siswa. Model ini memiliki keunggulan bahwa pandangan tingkah laku
seseorang sebaiknya dilihat sebagai hasil interaksi antara individu dengan
lingkungan hidupnya.
C.
POLA-POLA
BIMBINGAN
Menurut hasil analisis Edward C.
Glanz, dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbingan di institusi pendidikan
muncul empat pola dasar, yaitu:
1.
Pola Generalis
Bahwa corak pendidikan dalam suatu
institusi pendidikan berpengaruh terhadap kuantitas usaha belajar siswa, dan
seluruh staf pendidik dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian
masing-masing siswa. Ujung pelayanan bimbingan dilihat sebagai program yang
kontinyu dan bersambungan yang ditujukan kepada semua siswa. Pada akhirnya
bimbingan hanya dianggap perlu pada saat-saat tertentu saja.
2.
Pola Spesialis
Bahwa pelayanan bimbingan di institusi pendidikan harus ditangani oleh
ahli-ahli bimbingan yang masing-masing berkemampuan khusus dalam cara pelayanan
bimbingan tertentu seperti testing psikologis, bimbingan karir, dan bimbingan
konseling.
3.
Pola Kurikuler
Bahwa kegiatan bimbingan di institusi pendidikan diusulkan dimasukkan dalam
kurikulum pengajaran dalam bentuk pengajaran khusus dalam rangka suatu kursus
bimbingan. Segi positif dari pola dasar ini ialah hubungan langsung terlibat
dalam seluk-beluk pengajaran, segi negatifnya terletak dalam kenyataan bahwa
kemajuan dalam pemahaman diri dan perkembangan kepribadian tidak dapat diukur
melalui suatu tes hasil belajar seperti terjadi di bidang-bidang studi akademik
4.
Pola Relasi-relasi Manusia dan Kesehatan Mental
Bahwa orang akan lebih hidup bahagia bila dapat menjaga kesehatan mentalnya
dan membina hubungan baik dengan orang lain. Segi positif pola dasar ini adalah
peningkatan kerja sama antara anggota-anggota staf pendidik di institusi
pendidikan dan integrasi sosial di antara peserta didik dengan staf pendidik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemahaman
mengenai jenis bimbingan serta model dan pola layanan dalam BK sangat
diperlukan untuk bekal menjadi seorang konselor nantinya. Pemahaman ini juga
perlu untuk diaplikasikan tidak hanya sekedar menjadi pengetahuan belaka.
B. Saran
Penyusun makalah ini hanya manusia yang dangkal
ilmunya, yang hanya mengandalkan buku referensi. Maka dari itu penyusun
menyarankan agar para pembaca yang ingin mendalami masalah jenis bimbingan, model, dan pola layanan BK ini, agar setelah
membaca makalah ini, membaca sumber-sumber lain yang lebih komplit, tidak hanya
sebatas membaca makalah ini saja.
DAFTAR PUSTAKA
Eukaristia.
2011. Model dan Pola Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Diakses di alamat http://animenekoi.blogspot.com/2011/06/model-dan-pola-pelayanan-bimbingan-dan.html pada tanggal 22 Oktober 2013 pukul 14.20 WIB.
Maryanto, Lilik. 2012. Jenis – Jenis Bimbingan (Ditinjau Dari Bentuk, Sifat
dan Ragamnya). Diakses di alamat http://li2kmaryanto.blogspot.com/2012/10/jenis-jenis-bimbingan-ditinjau-dari.html pada tanggal 22 Oktober 2013 pukul 14.27 WIB.
Nilasari, Ayunda
Putri. 2011. Model dan Layanan Bimbingan dan Konseling. Diakses di alamat http://kafeilmuayundaputri.blogspot.com/2011/04/model-dan-layanan-bimbingan-dan.html pada tanggal 22 Oktober 2013 pukul 14.19 WIB.










