![]() |
SKALA
PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN
disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen
Pengampu : Bu Maria Theresia Sri Hartati
oleh
Kiftiyah
Riris Novita ( 1301413122 )
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
Dalam
menentukan kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan
data , sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik peneliti akan lebih
banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan
key instrument.
Instrumen
penelitian digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Dengan demikian
jumlah instrumen yang digunakan untuk penelitian akan tergantung pada variabel
yang akan diteliti. Bila variabel penelitiannya lima . instrumen-instrumen
penelitian sudah ada yang dibakukan, tetapi masih ada yang harus dibuat
peneliti sendiri. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan
pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap
instrumen harus mempunyai skala.
A.
Macam-macam Skala Pengukuran
Skala
Pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai untuk menentukan
panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur
tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat
emas, dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatifberta emas
dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm,
dan akan menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
Dengan
skala pengukuran ini, maka nilai variabel yag diukur dengan instrumen tertentu
dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan
komunikatif. Misalnya berat emas 19 gram, berat besi 100 kg, suhu badan orang
yang sehat 37 derajat celcius , IQ seseorang 150. Selanjutnya dalam pengukuran
sikap , sikap sekelompok orang akan diketahui termaksud gradasi mana dari suatu
skala sikap. Macam-macam skala pengukuran dapat berupa : skala nominal, skala
ordinal, skala interval, dan skala rasio. Dari skala pengukuran itu akan
diperoleh data nominal , ordinal , interval dan ratio.
Berbagai
skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan
sosial antara lain adalah :
1. Skala
Likers
2. Skala
Guttman
3. Rating
Scale
4. Semantic
Deferential
Ke
empat jenis skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran , akan mendapatkan
data interval , atau rasio, hal ini akan tergantung pada bidang yang akan
diukur.
1. Skala
Likers
Skala
Likers digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian , fenomena sosial
ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti , yang selanjutnya disebut
sebagai variabel penelitian.
Dengan
Skala Likers , maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator
variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk
menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Jawaban
setiap item instrumen yang menggunakan skala Likers mempunyai gradasi dari
sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain :
a. Sangat
Setuju a.
Selalu
b. Setuju b.
Sering
c. Ragu-ragu c.
Kadang-kadang
d. Tidak
Setuju d.
Tidak pernah
e. Sangat
tidak setuju
a. Sangat
positif a.
Sangat baik
b. Positif b.
Baik
c. Negatif c.
Tidak baik
d. Sangat
negatif d.
Sangat tidak baik
Untuk
keperluan analisis kuantitatif , maka jawaban itu dapat diberi skor , misalnya
:
1. Setuju/selalu/sangat
positif diberi skor 5
2. Setuju/
sering/ positif diberi skor 4
3. Ragu-ragu
/ kadang-kadang / netral diberi skor 3
4. Tidak
setuju/ hampir tidak pernah / negatif diberi skor 2
5. Sangat
tidak setuju / tidak pernah / diberi skor 1
Instrumen
penelitian yang menggunakan skala Likers dapat dibuat dalam bentuk cheklist
ataupun pilihan ganda.
a. Contoh
bentuk cheklist
Berilah
jawaban pernyataan berikut sesuai dengan pendapat anda dengan cara memberi tanda (√ ) pada kolom
yang tersedia.
No
|
Pertanyaan
|
Jawaban
|
||||
SS
|
ST
|
RG
|
TS
|
STS
|
||
1
2
|
Sekolah ini akan menggunakan
Teknologi informasi dalam peyanan
administrasi dan akademi
..............................
|
√
|
||||
SS
= Sangat Setuju diberi
skor 5
ST
= Setuju diberi
skor 4
RG=
Ragu-ragu diberi
skor 3
TS
= Tidak setuju diberi
skor 2
TS
= Tidak setuju diberi
skor 1
Kemudian
dengan teknik pengumpulan data angket, maka instrumen tersebut misalnya
diberikan kepada 100 orang karyawan yang diambil secara random. Dari 100 orang
pegawai setelah dilakukan analisis, misalnya :
25
Orang menjawab SS
40
Orang menjawab ST
5 Orang menjawab RG
20
Orang menjawab TS
10
Orang menjawab STS
Berdasarkan
data tersebut 65 orang (40 + 25) atau 65 % stakeholder menjawab setuju dan
sangat setuju. Jadi kesimpulannya mayoritas stakeholder setuju dengan sekolah
yang akan menggunakan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi dan
akademik.
Data
interval tersebut juga dapat di analisis dengan menghitung rata-rata jawaban
berdasarkan skoring setiap jawaban dari responden. Berdasarkan skor yang telah
ditetapkan dapat dihiitung sebagai berikut .
Jumlah
skor untuk 25 orang yang menjawab SS =
25 x 5 = 125
Jumlah
skor untuk 40 orang yang menjawab SS =
40 x 4 = 160
Jumlah
skor untuk 5 orang yang menjawab RG = 5 x 3 =
15
Jumlah
skor untuk 20 orang yang menjawab TS =
20 x 2 = 20
Jumlah
skor untuk 10 orang yang menjawab STS =
10 x 1 = 10
Jumlah
skor ideal (kriterium) untuk seluruh item = 5 x 100 = 500 (seandainya semua
menjawab SS). Jumlah skor yang diperoleh dari penelitian = 350. Jadi
berdasarkan data itu maka tingkat persetujuan stakeholder terhadap penggunaan
teknologi informasi dalam pelayanan administrasi dan akademik sekolah = (350 :
500) x 100 % = 70 % dari yang di harapkan (100%)
Secara
kontinum dapat di gambarkan seperti berikut :
100
200 300
350 400 500
Jadi
berdasarkan data yang diperoleh dari 100 responden maka rata-rata 350 terletak
pada daerah mendekati setuju.
b. Contoh
bentuk pilihan ganda
Berilah
salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat amda,
dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia.
Kurikulum
baru itu akan segera diterapkan di lembaga pendidikan anda ?
a. Sangat
tidak setuju
b. Tidak
setuju
c. Ragu-ragu
atau Netral
d. Setuju
e. Sangat
Setuju
Dengan
bentuk pilihan ganda itu, maka jawaban dapat diletakkan pada tempat yang
berbeda-beda. Untuk jawaban di atas “ sangat tidak setuju” diletakkan pada
jawaban nomor pertama. Untuk item selanjutnya jawaban “ sangat tidak setuju”
dapat diletakkan pada jawaban nomor terakhir.
Dalam
penyusunan instrumen untuk variabel tertentu sebaiknya buti-butir pertanyaan
dibuat dalam bentuk kalimat positif, netral aau negatif, sehingga responden
dapat menjawab dengan seriusdan konsisten. Contoh :
1. Saya setuju dengan Ujian Nasional untuk mengukur
kompetensi lulusan sekolah di Indonesia (Positif)
2. Ujian
Nasional telah banyak diterapkan di negara – negara maju (netral)
3. Saya
tidak setuju dengan Ujin Nasional untuk mengukur kompetensi lulusan sekolah di
Indonesia. ( negatif).
Dengan
cara demikian maka kecenderungan responden untuk menjawab pada kolom tertentu
untuk menjawab pada kolom tertentu dari bentuk Cheklist dapat dikurangi. Dengan
model ini juga responden akan selalu membaca pertanyaan setiap item instrumen
dan juga jawabannya. Pada bentuk cheklist sering jawaban tidak dibaca , karena
letak jawaban sudah menentu, tetapi dengan bentuk cheklist, maka akan di dapat
keuntungan dalam hal ini singkat dalam pembuatanya, hemat kertas, mudah
mentabulasikan data, dan secara visuaal lebih menarik. Data yang diperoleh dari
skala tersebut adalah berupa data interval.
2.
Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini
akan didapat jawaban yang tegas yaitu : “ ya – tidak”; “benar – salah “ ; “
pernah – tidak “ ; “pernah – tidak pernah” ; “positif – negatif’ dan lain –
lain. Data yang diperoleh dapat data interval atau rasio dikhotomi ( dua
alternatif ). Jadi kalau pada segala Likert terdapat 3,4,5,6,7 interval,
dari kata “ sangat setuju “ sampai “sangat tidak setuju”, maka dalam skala
Guttman hanya ada dua interval yaitu “ setuju” atau “ tidak setuju “.
Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban
yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Contoh
:
1. Bagaimana
pendapat anda, bila orang itu menjabat Kepala Sekolah di sini?
a. Setuju
b. Tidak
setuu
2. Pernahkah
pemilik sekolah melakukan pemeriksaan di ruang kelas anda?
a. Tidak
pernah
b. Pernah
Skala
Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam
bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan tidak setuju 0.
Analisa dialkukan seperti pada skala Likert.
Pernyataan
yang berkenaan dengan fakta benda bukan termasuk dalam skala pengukuran
interval dikotomi.
Contoh
:
1. Apakah
sekolah anda dekat jalan Protokol?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah
anda punya ijazah sarjana?
a. Tidak
b. Punya
3. Semantic
Defferensial
Skala
pengukuran yang berbentuk semantic defferensial dikembangkan oleh Osgood. Skala
ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak dipilihan ganda
maupun cheklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “
snagat positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan jawabannya “sangat
negatif “ terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh
adalah data intervel, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur
siakp/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
|
Contoh :
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi
Responden
dapat memberi jawaban, pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif.
Hal ini tergantung pada persepsi responden terhadap Kepala Sekolah itu sangat
positif, sedangkan bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral, dan
bilamemeberi jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap Kepala
Sekolah sangat negatif.
4. Rating
Scale
Dari
ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh
semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan
rating – scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan
dalam penegrtian kualitatif.
Responden
menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah – tidak
pernah adalah meruapkan data kualitatif. Dalam skala model rating scale,
reponden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah
disediakan. Oleh karena itu ratingscale ini lebih fleksibel, tidak terbatas
untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap
fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi,
kelembangan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain – lain.
Yang
penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat
mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap
item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh
orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih
jawaban dengan angka 2.
Contoh 1:
Seberapa
baik kurang kelas disekolah ini A ?
Berilah jawaban dengan angka :
4. bila tanda ruang itu sangat baik
3. bial tata ruang itu cukup baik
2. bial tata ruang itu kurang baik
1. bila tata ruang itu sangat tidak baik
Jawablah
dengan melingkari nomor jawaban yang etrsedia sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya.
No.Item
|
Pertanyaan tentang tata ruang
kantor
|
Interval Jawaban
|
1
|
Penataan meja murid dan guru
sehingga komunikasi lancar.
|
4 3
2
|
2
|
Pencahayaan alam tiap ruang
|
4 3
2
|
3
|
Pencahayaan buatan/listrik tiap
ruang sesuai dengan kebutuhan
|
4 3
2
|
4
|
Warna laintai sehingga tidak
menimbulkan pantulan caha yang dapat mengganggu pegawai
|
4 3
2
|
5
|
Sirkulasi udara setiap ruangan
|
4 3
2
|
6
|
Keserasian warna media
pendidikan, perabot dengan ruangan kelas
|
4 3
2
|
7
|
Penempatan almari buku
|
4 3
2
|
8
|
Penempatan ruangan guru
|
4 3
2
|
9
|
Meningkatkan keakraban sesama
murid
|
4 3
2
|
10
|
Kebersihan ruangan
|
4 3
2
|
Bial instrumen tersebut digunakan
sebagai angket dan diberikan kepada 30 responden, maka sebelum dianalisis, data
dapat ditabulasikan seperti pada tabel 6.1
Nomor Responden
|
Jawaban Responden untuk item nomor :
|
Jml
|
|||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
||
1
|
4
|
3
|
3
|
4
|
3
|
2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
29
|
2
|
3
|
4
|
4
|
1
|
3
|
4
|
4
|
3
|
2
|
1
|
29
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
2
|
2
|
3
|
4
|
28
|
4
|
1
|
2
|
3
|
2
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
3
|
25
|
5
|
4
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
1
|
2
|
2
|
4
|
28
|
6
|
1
|
1
|
1
|
1
|
2
|
2
|
1
|
2
|
2
|
1
|
14
|
7
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
1
|
1
|
2
|
1
|
17
|
8
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
4
|
4
|
4
|
3
|
33
|
9
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
3
|
3
|
3
|
3
|
36
|
10
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
2
|
2
|
2
|
2
|
14
|
11
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
2
|
1
|
1
|
3
|
24
|
12
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
15
|
13
|
3
|
2
|
2
|
2
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
27
|
14
|
4
|
4
|
4
|
4
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
34
|
15
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
2
|
2
|
2
|
26
|
16
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
3
|
3
|
38
|
17
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
20
|
18
|
3
|
3
|
2
|
2
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
2
|
26
|
19
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
2
|
3
|
3
|
3
|
3
|
28
|
20
|
1
|
1
|
1
|
2
|
2
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
21
|
21
|
2
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
2
|
2
|
26
|
22
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
2
|
2
|
28
|
23
|
2
|
3
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
37
|
24
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
30
|
25
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
35
|
26
|
3
|
3
|
2
|
2
|
2
|
2
|
3
|
4
|
4
|
4
|
29
|
27
|
4
|
3
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
3
|
4
|
4
|
38
|
28
|
4
|
3
|
3
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
4
|
2
|
26
|
29
|
4
|
3
|
3
|
2
|
2
|
2
|
2
|
1
|
4
|
2
|
25
|
30
|
3
|
3
|
2
|
2
|
2
|
3
|
1
|
4
|
4
|
2
|
26
|
Jumlah
|
812
|
||||||||||
Jumlah
skor Kriterum ( bila setiap butir mendapat skor tertinggi ) = 4 x 10 x 30 =
1200. Untuk ini skor tertinggi tiap butir = 4, jumlah butir = 10 dan jumlah
responden = 30.
Jumlah skor hasil pengumpulan data = 812 . dengan
demikian kualitas tata ruang kelas lembaga pendidikan A menurut persepsi 30
responden itu 812 : 1200 =68 % dari kriteria yang ditetapkan. Hal ini secara
kontinum daat dibuat kategori sebagai berikut :
Sangat Kurang 812 Cukup
sangat
tidak baik baik baik
baik
Nilai
812 termasuk dalam kategori interval “ kurang baik dan cukup baik” Tetapi lebih
mendekati cukup baik.
Contoh
2.
Seberapa
tinggi pengetahuan anda terhadap mata pelajaran berikut sebelum dan sesudah
mengikuti pendidikan dan latihan. Arti setiap angka adalah sebagai berikut.
0 = bila sama sekali belum tahu
1 = telah mengetahui sampai dengan
25 %
2 = telah mengetahui sampai dengan 50%
3 = telah mengetahui sampai dengan
75 %
4 = telah mengetahui 100%
1.
Instrumen
untuk menjaring data nominal
Contoh
:
a. Berapakah
jumlah guru di sekolah anda?............Guru
b. Berapakah
guru yang daapt berbahasa Inggris ....Guru
c. Berapa
murid yang paling Anda sukai?..................Murid
d. Berapakah
jumlah komputer yang dapat digunakan dilembaga pendidiakn anda?....Komputer
e. Dari
mana Anda mengetahui lokasi sekolah ini?.....................
2.
Instrumen
untuk menjaring data Ordinal
Contoh
:
Berilah
rangking terhadap prestasi belajar sepuluh murid dikelas ini?
TABEL
6.2
RANGKING
TERHADAP SEPULUH MURID DISEKOLAH A
Nama Murid
|
Rangking nomor
|
A
|
.........................
|
B
|
.........................
|
C
|
.........................
|
D
|
.........................
|
F
|
.........................
|
G
|
.........................
|
H
|
.........................
|
I
|
.........................
|
J
|
.........................
|
Misalnya murid
bernama E adalah yang paling baik
prestasinya, maka murid tersebut diberi tersebut diberi rangking 1.
Pada tabel 6.3 berikut ini juga
diberikan contoh instrumen untuk mendapatkan data ordianl. Dengan instrumen
tersebut responden diminta untuk mengurutkan rangking 23 faktor yang
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Misalnya sistem pembinaan karir
merupakan faktor yang paling berperan dalam mempenagruhi produktifitas, maka
faktor no 10 tersebut diberi rangking 1.
TABEL
6.3
RANGKING
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KERJA GURU
Rank No.
|
Faktor yang
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan
|
.........
|
1. Latar
belakang pendidikan formal
|
.........
|
2. Dorongan
keluarga
|
.........
|
3. Training
sebelumkerja
|
.........
|
4. Magang
sebelum bekerja
|
.........
|
5. Bakat
seseorang
|
.........
|
6. Pengawasan
atasan
|
.........
|
7. Peranan
pemimpin
|
.........
|
8. Gaji
bulanan
|
.........
|
9. Uang
lembur
|
.........
|
10. Pembinaan
karier
|
.........
|
11. Pekerjaan
sesuai minat
|
.........
|
12. Hubungan
dengan teman kerja
|
.........
|
13. Hubungan
dengan pemimpin
|
.........
|
14. Kejelasan
apa yang diekrjakan
|
.........
|
15. Kreativitas
|
.........
|
16. Kebersihan
ruangan
|
.........
|
17. Cahaya
ruangan
|
.........
|
18. Sirkulasi
udara
|
.........
|
19. Waktu
istirahat
|
.........
|
20. Alat
– alat kerja
|
.........
|
21. Kesehatan
kerja
|
.........
|
22. Harapan
yang dipenuhi
|
.........
|
23. Disiplin
kerja
|
B.
Instrumen
Penelitian
Pada
prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun
alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat
laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling
rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian. (Emory,, 1985).
Karena
pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur
yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian.
Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena
alam maupun sosial yang di amati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut
variabel penelitian.
Instrumen-instrumen
yang digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia
dan sudah teruji validitas dan reabilitasnya. Variabel –variabel dalam ilmu
alam misalnya panas, maka instrumennya adalah calorimeter, variabel suhu maka
intrumennya adalah mistar ( meteran), variabl berat maka instrumennya adalah
timbangan berat. Instrumen-instrumen tersebut mudah di dapat dan telah teruji
validitass dan reabilitasnya, kecuali yang rusak dan palsu. Instrumen –
instrumen yang rusak dan pulsa bila di gunakan untuk mengukur harus di uji
validitas dan reabitasnya terlebih dahulu.
Instrumen
– instrumen dalam penlitian dalam penelitian pendidikan memang ada yang sudah
tersedia dan telah teruji validitas dan reabilitasnya, seperti instrumen untuk
mengukur motif berprestasi, (n-ach) untuk mengukur sikap . mengukur IQ,
mengukur bakat dan lain-lain.
Walaupun
instrumen –instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk di cari dan apakah
bisa di beli atau tidak, selain itu instrumen-instrumen dalam bidang soaila
maupun telah teruji validitas analisis validitanya, tetapi bila digunakan untuk
tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliabel lagi.
Hal ini perlu dimaklumi karena gejala/fenomena soaila itu cepat berubah dan
sulit dicari kesamaannya. Instrumen tentang kepemimpinan mungkin valid untuk
kondisi Amerika, tetapi mungkin tidak valid untuk Indonesia.
Untuk
itu maka peneliti-peneliti dala bidang pendidikan instrumen penelitian yang
digunakan sering di susun sendiri bermaksud menguji validitas dan reabilitas.
Jumlah
instrumen penelitian tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah
ditetapkan untuk diteliti. Misalnya akan meneliti tentang “Pengaruh
kepemimpinan dan iklim kerja sekolah terhadap prestasi belajar anak”. Dalam hal
ini ada tiga instrumen yang perlu dibuat yaitu :
1. Instrumen
untuk mengukur kepemimpinan
2. Instrumen
untuk mengukur iklim kerja sekolah
3. Instrumen
untuk mengukur prestasi belajar murid
C. Cara
Menyusun Instrumen
Instrumen-instrumen
dalam bidang social umumnya dan khususnya bidang pendidikan khususnya yang
sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka penelitian harus mampu membuat instrument
yang akan digunakan untuk penelitian.
Titik tolak dari
penyususnan adalah variable-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti.
Dari variable-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan
selanjutnya ditentukan indicator yang akan diukur. Dari indicator in kemudian
dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan
penyusunan instrument, maka perlu digunakan “matrik pengembangan
instrument” atau “kisi-kisi instrument”.
Sebagai contoh
misalnya variable penelitiannya “tingkat kekayaan” indicator kekayaan misalnya:
rumah, kendaraan, tempat olah raga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk
indicator rumah, bentuk pertanyaannya misalnya: 1) berapa jumlah rumah, 2)
dimana letak rumah, 3) berapa luas masing-masing rumah, 4) bagaimana kualitas
bangunan rumah, dan sebagainya.
Untuk bias
menetapkan indicator-indikator dari setiap variable yang diteliti, maka
diperlukan wawasan yang luas dan yang mendalam tentang variable yang teliti,
dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrument
harus secermat mungkin agar diperoleh indicator yang valid. Caranya dapat
dilakukan dengan membaca berbagai refrensi (seperti buku, jurnal) membaca
hasil-hasil penelitian sebelum yang sejenisnyta, dan konsultasi pada orang yang
dipandang ahli.
D. Contoh Judul penelitian dan instrument yang
dikembangkan
Judul Penelitian
:
GAYA DAN SITUASI
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH SERTA PENGARUHNYA TERHADAP IKLIM KERJA ORGANISASI
SEKOLAH
Judul tersebut
terdiri atas dua variable independen dan satu dependen. Masing-masing
instrument nya adalah :
a.
Instrument untuk
mengukur variabel gaya kepemimpinan
b. Instrument
untuk mengukur variabel situasi kepemimpinan
c.
Instrument untuk
mengukur variabel iklim kerja organisai
Supaya
penyusunan instrumen lebih sistematis, sehingga mudah untuk dikontrol,
dikoreksi dan di konsultasikan pada orang ahli. Maka sebelum indtrumen disusun
menjadi item-item instrument maka perlu dibuat kisi-kisi instrumen.
Selanjutnya
untuk menyusun item-item instrument, maka indicator dari variabel yang akan
diteliti dijabarkan menjadi item-item instrument. Item-ite m instrument harus
disusun dengan bahasa yang jelas sehingga semua fihak yang berkepentingan tahu
apa yang dimaksud dalam item intrumen tersebut. Indicator-indikator variabel
itu sering disebut suatu “contruct” dari
suatu instrument, yang dalam membuatnya diperlukan berbagai konsep dan teori
sertahasil penelitian yang memadai.
Berikut
ini diberikan contoh instrument yang diperlukan untuk mengungkapkan variabel gaya kepemimpinan, situasi kepemimpinan dan iklim kerja organisasi dari suatu populasi penelitian (misalnya unit
kerja tertentu ). Item-item setiap instrument merupakan muatan atau penjabaran
dari indicator variabel yang diteliti. Instrument gaya kepemimpinan terdiri
atas 22 butir pertanyaan, situiasi kepemimpinan 18 butir pertanyaan dan iklim
kerja organisasi 14 butir pertanyaan. Berapa jumlah item/ butir instrument yang
di perlukan ? jawabannya adalah yang paling sedikit tetapi memadai untuk
mengukur variabel yang akan diteliti.
KIASI-KISI INSTRUMEN
YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGUKUR GAYA KEPEMIMPINAN, SITUASI KEPEMIMPINAN DAN
IKLIM KERJA ORGANISASI SEKOLAH
Variabel penelitian
|
Indicator
|
No. item instrument
|
Gaya Kepemimpinan
|
1. Kepemimpinan
direktif
2. Kepemimpianan
supportive
3. Kepemimpinan
partisipatif
4. Kepemimpian Goal
Oriented
|
|
SItuasi Kepemimpinan
|
1. Hubungan
pemimpin dengan anggota
2. Tugas-tugas
3. Power
position
|
|
Iklim Kerja Organisai
|
1. Otonomi
dan fleksibilitas
2. Menaruh
kepercayaan dan terbuka
3. Simpatik
dan member dukungan
4. Jujur
dan menghargai
5. Kejelasan
tujuan
6. Pekerjaan
yang resiko
7. Pertumbuhan
kepribadian
|
1.
Instrument
yang diperlukan untuk mengungkapkan variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah
tertentu. Sumber data nya adalah guru dan karyawan. Bentuk angket nya adalah multiple choice.
Contoh pertanyaan :
1. Apakah
Lepala Sekolah menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan guru ?
a. Tidak
pernah
b. Jarang
sekali
c. Sering
d. selalu
Instrument tentang gayakepemimpinan
itu dikembangkan dari teori kepemimpinan situasional. Oleh karena itu gaya
kepemimpinan yang baik, tergantung pada situasinya. Dengan instrument tentang
gaya kepemimpinan kepala sekolah itu, maka akan dapat digunakan untuk mengukur
kualitas gaya kepemimpinan seseorang atau kelompok orang pada lembaga tertentu.
Sebaik apa gaya yang ditampilkan oleh seseorang akan dapat diukur dan diketahui
secara kuantitatif.
Item-item instrument gaya
kepemimipinan itu sifatnya masih umum, untuk lebih spesifiknya maka item-item
tersebut perlu dikaitkan dengan tugas-tugas kepemimpinan sehari-hari. Menilai
pemimpin akan lebih objektif bila sumber datanya menggunakan berbagai kelompok
yang terlibat dengan pekerjaan pimpinan. Untuk itu maka akan objektif bila
sumber data nya adalah :
1. Para
guru
2. Murid/mahasiswa
3. Atasan (bila ada)
4. Yang
bersangkutan (pemimpin menilai dirinya sendiri)
2.
Instrument
yang diperlukan untuk mengungkapkan variabel situasi kepemimpinan dari satu
lembaga. Sumber data nya adalah para pegawai. Bentuk instrumennya adalah
checklist, untuk itu dapat digunakan sebagai pedoman o bservasi, wawancara
maupun sebagai angket.
Contoh
checklist nya :
No
|
Pertanyaan tentang situasi
kepemimpinan
|
S
|
SB
|
SK
|
TA
|
1.
|
Apakah para guru dan karyawan
member dukungan kepada kepala sekolah ?
|
Ket
:
S
: Semuanya ; SB : sebagian besar ; SK : sebagian kecil ; TA : tidak ada
3.
Instrument
untuk mengungkapkan iklim kerja organisasi sekolah. Bentuk instrument ratingscale. Dapat digunakan untuk
pedoman observasi, wawancara, dan sebagai angket . sumber datanya para pegawai
Contoh
ratingscale nya:
No
|
Pertanyaan tentang iklim kerja
organisasi
|
Tingkat persetujuan
|
|||
1.
|
Terdapat fleksibilitas dalam
menggunakan waktu dan sumber-sumber untuk mencapai tujuan sekolah
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Ket :
4
berarti sangat setuju = baik sekali
3
berarti setuju =
cukup baik
2 berarti tidak setuju = tidak baik
1
berarti sangat tidak setuju =
sangat tidak baik
Bentuk-bentuk instrument mana yang
akan dipilih tergantung beberapa faktor, diantaranya adalah teknik pengumpulan
data yang akan digunakan. Bila akan menggunakan angket maka bentuk pilihan
ganda lebih komunikatif, tetapi tidak hemat kertas dan instrument menjadi tebal
sehingga responden malas untuk menjawabnya. Bentuk checklist dan ratingscale
dapat digunakan sebagai pedoman observasi maupun wawancara. Kapan ketiga metode
pengumpulan data ini digunakan ?
1. Angket
digunakan bila responden jumlahnya besar dpat membaca dengan baik dan dapat
mengungkapkan hal-hal yang sifat nya rahasia
2. Observasi
digunakan bila objek penelitian bersifat perilaku manusia, proses kerja, gejala alam, responden kecil
3. Wawancara
digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam
serta jumlah responden kecil
4. Gabungan
ketiganya digunakan bila ingin mendapatkan data yang lengkap, akurat dan
konsisten.
E.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Dalam hal ini
perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliable dengan
instrument yang valid dan reliable. Hasil penelitian yang valid bila terdapat
kesamaan antara data yang penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara
data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang
diteliti. Kalau dalam objek berwarna merah, sedangkan data yang terkumpul
memberikan data berwarna putih maka hasil penelitian tidak valid. Selanjutnya
hasil penelitian yang reliable, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang
berbeda. Kalau dalam objek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan besok
tetap berwarna merah.
Instrumen yang
valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu
valid. Valid berarti instrumen tersebut
dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang
digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat
untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika dihunakan
untuk mengukur beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan
data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrument yang
tidak reliable/konsisten.
Dengan
menggunakan instrument yang valid dan reliable dalam pengumpulan data, maka diharapkan
hasil penelitian akan menjadi valid dan reliable. Jadi instrument yang valid
dan reliable merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang
valid dan reliable. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrument
yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, otomatis hasil (data)
penelitian menjadi valid dan reliable. Hal in masih akan dipengaruhi oleh
kondisi objek yang diteliti., dan kemampuan orang yang menggunakan instrument
untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu peneliti harus mampu mengendalikan
objek yang diteliti dan meningkatkan kemampuan dan menggunakan instrymen untuk
mengukur variable yang diteliti.
Instrumen-instrumen
dalam ilmu alam, misalnya meteran, thermometer, timbangan, biasanya telah
diakui veliditasnya dan reliabilitasnya (kecuali instrument yang sudah rusak
dan palsu). Instrumen-instrumen itu dapat dipercaya validitas dan
reliabilitasnya karena sebelum instrument itu digunakan/dikeluarkan dai pabrik
telah diuji validitasnya dan reliabilitasnya/ditera.
Instrument-instrumen
dalam ilmu social sudah ada yang baku (standard), karena telat teruji
validitasnya dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan
belum ada. Untuk itu maka peneliti harus mempu menyusun sendiri instrument pada
setiap penelitian dan menguji validitas dan reliabilitasnya. Instrument yang
tidak teruji validitas dan reliailitasnya bila diginakan untuk penelitian akan
menghasilkan data yang sulit dipercaya kebenarannya.
Instrument yang
reliable belum tentu valid. Meteran yang putus dibagian ujungnya, bila
digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi
selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrument (meteran) tersebut
rusak. Reliabilitas instrument merupakan syarat untuk pengujian validitas instrument.
Oleh karena itu wlaupun instrument yang valid umunya pasti reliable, tetapi
pengujian reliabilitas instrument perlu dilakukan.
Pada dasarnya
terdapat dua macam instrument, yaitu instrument yang berbentuk tes untuk
mengukur prestasi belajar dan instrument yang non tes untuk mengukur sikap.
Instrument yang berupa tes jawabannya adalah “salah atau benar”, sedangkan
instrument sikap jawabannya tidak ada yang “salah atau benar” tetapi bersifat
“positif dan negatif”. Skema tentang instrument yang baik dan cara pengujiannya
ditunjukkan pada gambar berikut ini
![]() |
F.
Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrument
1.Pengujian
Validitas Instrumen
a.
Pengujian Validitas Konstrak (construct validity)
Dalam
hal ini setelah instrument dikonstruksikan tentang aspek-aspek yang akan diukur
dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan
ahli.jumalah tenaga ahli yang digunakan minimal 3 orang. Setelah itu diteruskan
dengan uji coba instrumen. Intrumen tersebut dicobakan pada sampel ditunjukan
pada populasi diambil. Setelah data ditabulasikan, kemudian dilakukan analisis
factor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrument dalam suatu
factor, dan mengkorelasikan skor factor dengan skor total.
Bila
korelasi tiap factor tersebut positif dan besarnya 0,3 ke atas maka factor
tersebut merupakan contruct yang kuat.
b.
Pengujian Validitas Isi (Contruct Validity)
Untuk
instrumen yang berbentuk test, pengujian
validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan
materi pelajaran yang telah diajarkan.
Teknis
pengujian validitas konstruk dan validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan
kisi-kisi instrument, atau matrik pengembangan instrument. Untuk menguji
validitas buti-butir instrument lebih lanjut, maka setelah dikonsultasikan
denga ahli, diujicobakan, dianalisis dengan analisis item dan uji beda
c.
Pengujian Validitas Ekternal
Validitas
Ekternal instrument diuji dengan cara membandingkan (untuk mencarai kesamaa)
anatar criteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta empiris yang
terjadi dilapangan.
2.
Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian
Reliabilitas Instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara
eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent,
dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat diuji
denganmenganalisis butir-butir yang ada pada instrument dengan teknik tertentu.
a. Test-retest
Dilakukan dengan cara mencobakan
instrumen beberapa kali pada responden. Jadi, dalam hal ini intrumennya sama,
respondenya sama, dan waktunya yang berbeda.
b. Ekuivalen
Pengujian reliabilitas instrument dengan
cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang
sama, waktu sama, intrumen berbeda.
c. Gabungan
Dilakukan denga cara mencobakan duan
instrument yang ekuivalen itu beberapa kali, ke responden yang sama.
d. Internal
consistency
Dilakukan denga cara mencobakan
instrumen sekali saja, kemudian yang data diperoleh dianalisis dengan teknik
tertentu.












