Jurusan Bimbingan dan Konseling

Jurusan Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu jurusan difakultas ilmu pendidikan.

Bimbingan dan Konseling

Ada banyak macam-macam layanan dalam Bimbingan dan Konseling.

UNNES

Unnes merupakan salah satu perguruan tinggi yang terdiri dari 8 fakultas.

Konservasi Lingkungan

Unnes merupakan salah satu universitas konservasi yang berada di indonesia.

Bimbingan dan Konseling membantu Orang

Bimbingan dan Konseling salah satu menfaatnya adalah memandirikan orang atau Konseli.

Minggu, 28 Desember 2014

SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN KUALITATIF

Logo_Unnes
 





SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
 Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : Bu Maria Theresia Sri Hartati



                                                oleh
Kiftiyah Riris Novita            ( 1301413122 )

                                            



JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014


Dalam menentukan kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data , sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik peneliti akan lebih banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan key instrument.
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang digunakan untuk penelitian akan tergantung pada variabel yang akan diteliti. Bila variabel penelitiannya lima . instrumen-instrumen penelitian sudah ada yang dibakukan, tetapi masih ada yang harus dibuat peneliti sendiri. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala.
A.     Macam-macam Skala Pengukuran
Skala Pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatifberta emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yag diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif. Misalnya berat emas 19 gram, berat besi 100 kg, suhu badan orang yang sehat 37 derajat celcius , IQ seseorang 150. Selanjutnya dalam pengukuran sikap , sikap sekelompok orang akan diketahui termaksud gradasi mana dari suatu skala sikap. Macam-macam skala pengukuran dapat berupa : skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio. Dari skala pengukuran itu akan diperoleh data nominal , ordinal , interval dan ratio.
Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial antara lain adalah :
1.      Skala Likers
2.      Skala Guttman
3.      Rating Scale
4.      Semantic Deferential
Ke empat jenis skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran , akan mendapatkan data interval , atau rasio, hal ini akan tergantung pada bidang yang akan diukur.
1.      Skala Likers
Skala Likers digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian , fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti , yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan Skala Likers , maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likers mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain :
a.       Sangat Setuju                                            a. Selalu
b.      Setuju                                                        b. Sering
c.       Ragu-ragu                                                 c. Kadang-kadang
d.      Tidak Setuju                                              d. Tidak pernah
e.       Sangat tidak setuju

a.       Sangat positif                                            a. Sangat baik
b.      Positif                                                        b. Baik
c.       Negatif                                                      c. Tidak baik
d.      Sangat negatif                                           d. Sangat tidak baik
Untuk keperluan analisis kuantitatif , maka jawaban itu dapat diberi skor , misalnya :
1.    Setuju/selalu/sangat positif diberi skor                            5
2.    Setuju/ sering/ positif diberi skor                                     4
3.    Ragu-ragu / kadang-kadang / netral diberi skor               3
4.    Tidak setuju/ hampir tidak pernah / negatif diberi skor   2
5.    Sangat tidak setuju / tidak pernah / diberi skor               1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likers dapat dibuat dalam bentuk cheklist ataupun pilihan ganda.
a.       Contoh bentuk cheklist
Berilah jawaban pernyataan berikut sesuai dengan pendapat anda  dengan cara memberi tanda (√ ) pada kolom yang tersedia.
No
Pertanyaan
Jawaban
SS
ST
RG
TS
STS
1






2
Sekolah ini akan menggunakan
Teknologi informasi dalam peyanan administrasi dan akademi
..............................








    √




SS = Sangat Setuju                             diberi skor                               5
ST = Setuju                                         diberi skor                               4
RG= Ragu-ragu                                  diberi skor                               3
TS = Tidak setuju                                diberi skor                               2
TS = Tidak setuju                                diberi skor                               1
Kemudian dengan teknik pengumpulan data angket, maka instrumen tersebut misalnya diberikan kepada 100 orang karyawan yang diambil secara random. Dari 100 orang pegawai setelah dilakukan analisis, misalnya :
25 Orang menjawab                                        SS
40 Orang menjawab                                        ST
5   Orang menjawab                                        RG
20 Orang menjawab                                        TS
10 Orang menjawab                                        STS
Berdasarkan data tersebut 65 orang (40 + 25) atau 65 % stakeholder menjawab setuju dan sangat setuju. Jadi kesimpulannya mayoritas stakeholder setuju dengan sekolah yang akan menggunakan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi dan akademik.
Data interval tersebut juga dapat di analisis dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban dari responden. Berdasarkan skor yang telah ditetapkan dapat dihiitung sebagai berikut .
Jumlah skor untuk 25 orang yang menjawab SS        = 25 x 5           = 125
Jumlah skor untuk 40 orang yang menjawab SS        = 40 x 4           = 160
Jumlah skor untuk 5  orang yang menjawab RG        = 5 x 3             = 15
Jumlah skor untuk 20 orang yang menjawab TS        = 20 x 2           = 20
Jumlah skor untuk 10 orang yang menjawab STS      = 10 x 1           = 10
Jumlah skor ideal (kriterium) untuk seluruh item = 5 x 100 = 500 (seandainya semua menjawab SS). Jumlah skor yang diperoleh dari penelitian = 350. Jadi berdasarkan data itu maka tingkat persetujuan stakeholder terhadap penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi dan akademik sekolah = (350 : 500) x 100 % = 70 % dari yang di harapkan (100%)
Secara kontinum dapat di gambarkan seperti berikut :
                  STS                TS                       RG                      ST                       SS

      100                200                     300       350       400                     500
Jadi berdasarkan data yang diperoleh dari 100 responden maka rata-rata 350 terletak pada daerah mendekati setuju.

b.      Contoh bentuk pilihan ganda
Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat amda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia.
Kurikulum baru itu akan segera diterapkan di lembaga pendidikan anda ?
a.       Sangat tidak setuju
b.      Tidak setuju
c.       Ragu-ragu atau Netral
d.      Setuju
e.       Sangat Setuju
Dengan bentuk pilihan ganda itu, maka jawaban dapat diletakkan pada tempat yang berbeda-beda. Untuk jawaban di atas “ sangat tidak setuju” diletakkan pada jawaban nomor pertama. Untuk item selanjutnya jawaban “ sangat tidak setuju” dapat diletakkan pada jawaban nomor terakhir.
Dalam penyusunan instrumen untuk variabel tertentu sebaiknya buti-butir pertanyaan dibuat dalam bentuk kalimat positif, netral aau negatif, sehingga responden dapat menjawab dengan seriusdan konsisten. Contoh :
1.      Saya  setuju dengan Ujian Nasional untuk mengukur kompetensi lulusan sekolah di Indonesia (Positif)
2.      Ujian Nasional telah banyak diterapkan di negara – negara maju (netral)
3.      Saya tidak setuju dengan Ujin Nasional untuk mengukur kompetensi lulusan sekolah di Indonesia. ( negatif).
Dengan cara demikian maka kecenderungan responden untuk menjawab pada kolom tertentu untuk menjawab pada kolom tertentu dari bentuk Cheklist dapat dikurangi. Dengan model ini juga responden akan selalu membaca pertanyaan setiap item instrumen dan juga jawabannya. Pada bentuk cheklist sering jawaban tidak dibaca , karena letak jawaban sudah menentu, tetapi dengan bentuk cheklist, maka akan di dapat keuntungan dalam hal ini singkat dalam pembuatanya, hemat kertas, mudah mentabulasikan data, dan secara visuaal lebih menarik. Data yang diperoleh dari skala tersebut adalah berupa data interval.

2. Skala Guttman
            Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas yaitu : “ ya – tidak”; “benar – salah “ ; “ pernah – tidak “ ; “pernah – tidak pernah” ; “positif – negatif’ dan lain – lain. Data yang diperoleh dapat data interval atau rasio dikhotomi ( dua alternatif  ). Jadi kalau  pada segala Likert terdapat 3,4,5,6,7 interval, dari kata “ sangat setuju “ sampai “sangat tidak setuju”, maka dalam skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “ setuju” atau “ tidak setuju “. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Contoh :
1.      Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat Kepala Sekolah di sini?
a.       Setuju
b.      Tidak setuu
2.      Pernahkah pemilik sekolah melakukan pemeriksaan di ruang kelas anda?
a.       Tidak pernah
b.      Pernah
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan tidak setuju 0. Analisa dialkukan seperti pada skala Likert.
Pernyataan yang berkenaan dengan fakta benda bukan termasuk dalam skala pengukuran interval dikotomi.
Contoh :
1.      Apakah sekolah anda dekat jalan Protokol?
a.       Ya
b.      Tidak
2.      Apakah anda punya ijazah sarjana?
a.       Tidak
b.      Punya
3.      Semantic Defferensial
Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak dipilihan ganda maupun cheklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “ snagat positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan jawabannya “sangat negatif “ terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data intervel, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur siakp/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.


Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan Kepala Sekolah
 
Contoh : 




Bersahabat                  5          4          3          2          1          Tidak bersahabat
Tepat Janji                   5          4          3          2          1          Lupa Janji
Bersaudara                  5          4          3          2          1          Memusuhi
Memberi Pujian           5          4          3          2          1          Mencela
Mempercayai               5          4          3          2          1          Mendominasi

Responden dapat memberi jawaban, pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif. Hal ini tergantung pada persepsi responden terhadap Kepala Sekolah itu sangat positif, sedangkan bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bilamemeberi jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap Kepala Sekolah sangat negatif.
4.      Rating Scale
Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating – scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam penegrtian kualitatif.
Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah – tidak pernah adalah meruapkan data kualitatif. Dalam skala model rating scale, reponden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu ratingscale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembangan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain – lain.
Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2.
Contoh 1: 
Seberapa baik kurang kelas disekolah ini A ?
            Berilah jawaban dengan angka :
            4. bila tanda ruang itu sangat baik
            3. bial tata ruang itu cukup baik
            2. bial tata ruang itu kurang baik
            1. bila tata ruang itu sangat tidak baik
Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang etrsedia sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
No.Item
Pertanyaan tentang tata ruang kantor
Interval Jawaban
1
Penataan meja murid dan guru sehingga komunikasi lancar.
4     3     2
2
Pencahayaan alam tiap ruang
4     3     2
3
Pencahayaan buatan/listrik tiap ruang sesuai dengan kebutuhan
4     3     2
4
Warna laintai sehingga tidak menimbulkan pantulan caha yang dapat mengganggu pegawai
4     3     2
5
Sirkulasi udara setiap ruangan
4     3     2
6
Keserasian warna media pendidikan, perabot dengan ruangan kelas
4     3     2
7
Penempatan almari buku
4     3     2
8
Penempatan ruangan guru
4     3     2
9
Meningkatkan keakraban sesama murid
4     3     2
10
Kebersihan ruangan
4     3     2

            Bial instrumen tersebut digunakan sebagai angket dan diberikan kepada 30 responden, maka sebelum dianalisis, data dapat ditabulasikan seperti pada tabel 6.1
Nomor Responden
Jawaban Responden untuk item nomor :
Jml
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
4
3
3
4
3
2
1
2
3
4
29
2
3
4
4
1
3
4
4
3
2
1
29
3
3
3
3
3
3
2
2
2
3
4
28
4
1
2
3
2
3
3
3
3
2
3
25
5
4
3
3
3
3
3
1
2
2
4
28
6
1
1
1
1
2
2
1
2
2
1
14
7
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
17
8
3
3
3
3
3
3
4
4
4
3
33
9
4
4
4
4
4
4
3
3
3
3
36
10
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
14
11
3
3
3
3
3
2
2
1
1
3
24
12
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
15
13
3
2
2
2
3
3
3
3
3
3
27
14
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
34
15
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
26
16
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
38
17
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
20
18
3
3
2
2
3
3
3
3
2
2
26
19
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
28
20
1
1
1
2
2
3
3
3
3
2
21
21
2
3
3
3
3
3
3
2
2
2
26
22
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
28
23
2
3
4
4
4
4
4
4
4
4
37
24
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
30
25
4
4
4
4
4
3
3
3
3
3
35
26
3
3
2
2
2
2
3
4
4
4
29
27
4
3
4
4
4
4
4
3
4
4
38
28
4
3
3
2
2
2
2
2
4
2
26
29
4
3
3
2
2
2
2
1
4
2
25
30
3
3
2
2
2
3
1
4
4
2
26
Jumlah










812

Jumlah skor Kriterum ( bila setiap butir mendapat skor tertinggi ) = 4 x 10 x 30 = 1200. Untuk ini skor tertinggi tiap butir = 4, jumlah butir = 10 dan jumlah responden = 30.
            Jumlah skor hasil pengumpulan data = 812 . dengan demikian kualitas tata ruang kelas lembaga pendidikan A menurut persepsi 30 responden itu 812 : 1200 =68 % dari kriteria yang ditetapkan. Hal ini secara kontinum daat dibuat kategori sebagai berikut :

      300                           600                                             900                                             1200
                                                                                     
    Sangat                     Kurang                                           812           Cukup                            sangat 
    tidak                                    baik                                                     baik                                baik
    baik
Nilai 812 termasuk dalam kategori interval “ kurang baik dan cukup baik” Tetapi lebih mendekati cukup baik.
Contoh 2.
Seberapa tinggi pengetahuan anda terhadap mata pelajaran berikut sebelum dan sesudah mengikuti pendidikan dan latihan. Arti setiap angka adalah sebagai berikut.
            0 = bila sama sekali belum tahu
            1 = telah mengetahui sampai dengan 25 %
            2 = telah mengetahui sampai dengan 50%
            3 = telah mengetahui sampai dengan 75 %
            4 = telah mengetahui 100%
1.      Instrumen untuk menjaring data nominal
Contoh :
a.       Berapakah jumlah guru di sekolah anda?............Guru
b.      Berapakah guru yang daapt berbahasa Inggris ....Guru
c.       Berapa murid yang paling Anda sukai?..................Murid
d.      Berapakah jumlah komputer yang dapat digunakan dilembaga pendidiakn anda?....Komputer
e.       Dari mana Anda mengetahui lokasi sekolah ini?.....................
2.      Instrumen untuk menjaring data Ordinal
Contoh :
Berilah rangking terhadap prestasi belajar sepuluh murid dikelas ini?
TABEL 6.2
RANGKING TERHADAP SEPULUH MURID DISEKOLAH A
Nama  Murid
Rangking nomor
A
.........................
B
.........................
C
.........................
D
.........................
F
.........................
G
.........................
H
.........................
I
.........................
J
.........................

Misalnya murid bernama E adalah  yang paling baik prestasinya, maka murid tersebut diberi tersebut diberi rangking 1.
            Pada tabel 6.3 berikut ini juga diberikan contoh instrumen untuk mendapatkan data ordianl. Dengan instrumen tersebut responden diminta untuk mengurutkan rangking 23 faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Misalnya sistem pembinaan karir merupakan faktor yang paling berperan dalam mempenagruhi produktifitas, maka faktor no 10 tersebut diberi rangking 1.
TABEL 6.3
RANGKING FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KERJA GURU
Rank No.
Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan
.........
1.      Latar belakang pendidikan formal
.........
2.      Dorongan keluarga
.........
3.      Training sebelumkerja
.........
4.      Magang sebelum bekerja
.........
5.      Bakat seseorang
.........
6.      Pengawasan atasan
.........
7.      Peranan pemimpin
.........
8.      Gaji bulanan
.........
9.      Uang lembur
.........
10.  Pembinaan karier
.........
11.  Pekerjaan sesuai minat
.........
12.  Hubungan dengan teman kerja
.........
13.  Hubungan dengan pemimpin
.........
14.  Kejelasan apa yang diekrjakan
.........
15.  Kreativitas
.........
16.  Kebersihan ruangan
.........
17.  Cahaya ruangan
.........
18.  Sirkulasi udara
.........
19.  Waktu istirahat
.........
20.  Alat – alat kerja
.........
21.  Kesehatan kerja
.........
22.  Harapan yang dipenuhi
.........
23.  Disiplin kerja

B.     Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian. (Emory,, 1985).
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang di amati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian.
Instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia dan sudah teruji validitas dan reabilitasnya. Variabel –variabel dalam ilmu alam misalnya panas, maka instrumennya adalah calorimeter, variabel suhu maka intrumennya adalah mistar ( meteran), variabl berat maka instrumennya adalah timbangan berat. Instrumen-instrumen tersebut mudah di dapat dan telah teruji validitass dan reabilitasnya, kecuali yang rusak dan palsu. Instrumen – instrumen yang rusak dan pulsa bila di gunakan untuk mengukur harus di uji validitas dan reabitasnya terlebih dahulu.
Instrumen – instrumen dalam penlitian dalam penelitian pendidikan memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reabilitasnya, seperti instrumen untuk mengukur motif berprestasi, (n-ach) untuk mengukur sikap . mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain.
Walaupun instrumen –instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk di cari dan apakah bisa di beli atau tidak, selain itu instrumen-instrumen dalam bidang soaila maupun telah teruji validitas analisis validitanya, tetapi bila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliabel lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena gejala/fenomena soaila itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya. Instrumen tentang kepemimpinan mungkin valid untuk kondisi Amerika, tetapi mungkin tidak valid untuk Indonesia.
Untuk itu maka peneliti-peneliti dala bidang pendidikan instrumen penelitian yang digunakan sering di susun sendiri bermaksud menguji validitas dan reabilitas.
Jumlah instrumen penelitian tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Misalnya akan meneliti tentang “Pengaruh kepemimpinan dan iklim kerja sekolah terhadap prestasi belajar anak”. Dalam hal ini ada tiga instrumen yang perlu dibuat yaitu :
1.      Instrumen untuk mengukur kepemimpinan
2.      Instrumen untuk mengukur iklim kerja sekolah
3.      Instrumen untuk mengukur prestasi belajar murid
 C. Cara Menyusun Instrumen
Instrumen-instrumen dalam bidang social umumnya dan khususnya bidang pendidikan khususnya yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka penelitian harus mampu membuat instrument yang akan digunakan untuk penelitian.
Titik tolak dari penyususnan adalah variable-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variable-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indicator yang akan diukur. Dari indicator in kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrument, maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrument”  atau “kisi-kisi instrument”.
Sebagai contoh misalnya variable penelitiannya “tingkat kekayaan” indicator kekayaan misalnya: rumah, kendaraan, tempat olah raga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk indicator rumah, bentuk pertanyaannya misalnya: 1) berapa jumlah rumah, 2) dimana letak rumah, 3) berapa luas masing-masing rumah, 4) bagaimana kualitas bangunan rumah, dan sebagainya.
Untuk bias menetapkan indicator-indikator dari setiap variable yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan yang mendalam tentang variable yang teliti, dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrument harus secermat mungkin agar diperoleh indicator yang valid. Caranya dapat dilakukan dengan membaca berbagai refrensi (seperti buku, jurnal) membaca hasil-hasil penelitian sebelum yang sejenisnyta, dan konsultasi pada orang yang dipandang ahli.
D. Contoh Judul penelitian dan instrument yang dikembangkan
Judul Penelitian :
GAYA DAN SITUASI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH SERTA PENGARUHNYA TERHADAP IKLIM KERJA ORGANISASI SEKOLAH
Judul tersebut terdiri atas dua variable independen dan satu dependen. Masing-masing instrument nya adalah :
a.       Instrument untuk mengukur variabel gaya kepemimpinan
b.      Instrument untuk mengukur variabel situasi kepemimpinan
c.       Instrument untuk mengukur variabel iklim kerja organisai
Supaya penyusunan instrumen lebih sistematis, sehingga mudah untuk dikontrol, dikoreksi dan di konsultasikan pada orang ahli. Maka sebelum indtrumen disusun menjadi item-item instrument maka perlu dibuat kisi-kisi instrumen.
Selanjutnya untuk menyusun item-item instrument, maka indicator dari variabel yang akan diteliti dijabarkan menjadi item-item instrument. Item-ite m instrument harus disusun dengan bahasa yang jelas sehingga semua fihak yang berkepentingan tahu apa yang dimaksud dalam item intrumen tersebut. Indicator-indikator variabel itu sering disebut suatu “contruct” dari suatu instrument, yang dalam membuatnya diperlukan berbagai konsep dan teori sertahasil penelitian yang memadai.
Berikut ini diberikan contoh instrument yang diperlukan untuk mengungkapkan variabel gaya kepemimpinan, situasi kepemimpinan dan iklim kerja organisasi  dari suatu populasi penelitian (misalnya unit kerja tertentu ). Item-item setiap instrument merupakan muatan atau penjabaran dari indicator variabel yang diteliti. Instrument gaya kepemimpinan terdiri atas 22 butir pertanyaan, situiasi kepemimpinan 18 butir pertanyaan dan iklim kerja organisasi 14 butir pertanyaan. Berapa jumlah item/ butir instrument yang di perlukan ? jawabannya adalah yang paling sedikit tetapi memadai untuk mengukur variabel yang akan diteliti.
KIASI-KISI INSTRUMEN YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGUKUR GAYA KEPEMIMPINAN, SITUASI KEPEMIMPINAN DAN IKLIM KERJA ORGANISASI SEKOLAH
Variabel penelitian
Indicator
No. item instrument
Gaya Kepemimpinan
1.      Kepemimpinan direktif
2.      Kepemimpianan supportive
3.      Kepemimpinan partisipatif
4.      Kepemimpian  Goal Oriented

SItuasi Kepemimpinan
1.      Hubungan pemimpin dengan anggota
2.      Tugas-tugas
3.      Power position

Iklim Kerja Organisai
1.      Otonomi dan fleksibilitas
2.      Menaruh kepercayaan dan terbuka
3.      Simpatik dan member dukungan
4.      Jujur dan menghargai
5.      Kejelasan tujuan
6.      Pekerjaan yang resiko
7.      Pertumbuhan kepribadian


1.      Instrument yang diperlukan untuk mengungkapkan variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah tertentu. Sumber data nya adalah guru dan karyawan. Bentuk angket nya adalah multiple choice.
Contoh  pertanyaan :                       
1.      Apakah Lepala Sekolah menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan guru ?
a.       Tidak pernah
b.      Jarang sekali
c.       Sering
d.      selalu
Instrument tentang gayakepemimpinan itu dikembangkan dari teori kepemimpinan situasional. Oleh karena itu gaya kepemimpinan yang baik, tergantung pada situasinya. Dengan instrument tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah itu, maka akan dapat digunakan untuk mengukur kualitas gaya kepemimpinan seseorang atau kelompok orang pada lembaga tertentu. Sebaik apa gaya yang ditampilkan oleh seseorang akan dapat diukur dan diketahui secara kuantitatif.
Item-item instrument gaya kepemimipinan itu sifatnya masih umum, untuk lebih spesifiknya maka item-item tersebut perlu dikaitkan dengan tugas-tugas kepemimpinan sehari-hari. Menilai pemimpin akan lebih objektif bila sumber datanya menggunakan berbagai kelompok yang terlibat dengan pekerjaan pimpinan. Untuk itu maka akan objektif bila sumber data nya adalah :
1.      Para guru
2.      Murid/mahasiswa
3.       Atasan (bila ada)
4.      Yang bersangkutan (pemimpin menilai dirinya sendiri)
2.      Instrument yang diperlukan untuk mengungkapkan variabel situasi kepemimpinan dari satu lembaga. Sumber data nya adalah para pegawai. Bentuk instrumennya adalah checklist, untuk itu dapat digunakan sebagai pedoman o bservasi, wawancara maupun sebagai angket.


Contoh checklist nya :
No
Pertanyaan tentang situasi kepemimpinan
S
SB
SK
TA
1.
Apakah para guru dan karyawan member dukungan kepada kepala sekolah ?




Ket :
S : Semuanya ; SB : sebagian besar ; SK : sebagian kecil ; TA : tidak ada
3.      Instrument untuk mengungkapkan iklim kerja organisasi sekolah. Bentuk instrument ratingscale. Dapat digunakan untuk pedoman observasi, wawancara, dan sebagai angket . sumber datanya para pegawai
Contoh ratingscale  nya:

No
Pertanyaan tentang iklim kerja organisasi
Tingkat persetujuan
1.
Terdapat fleksibilitas dalam menggunakan waktu dan sumber-sumber untuk mencapai tujuan sekolah
4
3
2
1
Ket :
4 berarti sangat setuju                 = baik sekali
3 berarti setuju                             = cukup baik
2  berarti tidak setuju                   = tidak baik
1 berarti sangat tidak setuju         = sangat tidak baik
Bentuk-bentuk instrument mana yang akan dipilih tergantung beberapa faktor, diantaranya adalah teknik pengumpulan data yang akan digunakan. Bila akan menggunakan angket maka bentuk pilihan ganda lebih komunikatif, tetapi tidak hemat kertas dan instrument menjadi tebal sehingga responden malas untuk menjawabnya. Bentuk checklist dan ratingscale dapat digunakan sebagai pedoman observasi maupun wawancara. Kapan ketiga metode pengumpulan data ini digunakan ?
1.      Angket digunakan bila responden jumlahnya besar dpat membaca dengan baik dan dapat mengungkapkan hal-hal yang sifat nya rahasia
2.      Observasi digunakan bila objek penelitian bersifat perilaku manusia,  proses kerja, gejala alam, responden kecil
3.      Wawancara digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam serta jumlah responden kecil
4.      Gabungan ketiganya digunakan bila ingin mendapatkan data yang lengkap, akurat dan konsisten.
E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Dalam hal ini perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliable dengan instrument yang valid dan reliable. Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Kalau dalam objek berwarna merah, sedangkan data yang terkumpul memberikan data berwarna putih maka hasil penelitian tidak valid. Selanjutnya hasil penelitian yang reliable, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Kalau dalam objek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan besok tetap berwarna merah.
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika dihunakan untuk mengukur beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrument yang tidak reliable/konsisten.
Dengan menggunakan instrument yang valid dan reliable dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliable. Jadi instrument yang valid dan reliable merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliable. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrument yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, otomatis hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliable. Hal in masih akan dipengaruhi oleh kondisi objek yang diteliti., dan kemampuan orang yang menggunakan instrument untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu peneliti harus mampu mengendalikan objek yang diteliti dan meningkatkan kemampuan dan menggunakan instrymen untuk mengukur variable yang diteliti.
            Instrumen-instrumen dalam ilmu alam, misalnya meteran, thermometer, timbangan, biasanya telah diakui veliditasnya dan reliabilitasnya (kecuali instrument yang sudah rusak dan palsu). Instrumen-instrumen itu dapat dipercaya validitas dan reliabilitasnya karena sebelum instrument itu digunakan/dikeluarkan dai pabrik telah diuji validitasnya dan reliabilitasnya/ditera.
            Instrument-instrumen dalam ilmu social sudah ada yang baku (standard), karena telat teruji validitasnya dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan belum ada. Untuk itu maka peneliti harus mempu menyusun sendiri instrument pada setiap penelitian dan menguji validitas dan reliabilitasnya. Instrument yang tidak teruji validitas dan reliailitasnya bila diginakan untuk penelitian akan menghasilkan data yang sulit dipercaya kebenarannya.
Instrument yang reliable belum tentu valid. Meteran yang putus dibagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrument (meteran) tersebut rusak. Reliabilitas instrument merupakan syarat untuk pengujian validitas instrument. Oleh karena itu wlaupun instrument yang valid umunya pasti reliable, tetapi pengujian reliabilitas instrument perlu dilakukan.
Pada dasarnya terdapat dua macam instrument, yaitu instrument yang berbentuk tes untuk mengukur prestasi belajar dan instrument yang non tes untuk mengukur sikap. Instrument yang berupa tes jawabannya adalah “salah atau benar”, sedangkan instrument sikap jawabannya tidak ada yang “salah atau benar” tetapi bersifat “positif dan negatif”. Skema tentang instrument yang baik dan cara pengujiannya ditunjukkan pada gambar berikut ini



 


























F. Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrument
1.Pengujian Validitas Instrumen
a. Pengujian Validitas Konstrak (construct validity)
Dalam hal ini setelah instrument dikonstruksikan tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli.jumalah tenaga ahli yang digunakan minimal 3 orang. Setelah itu diteruskan dengan uji coba instrumen. Intrumen tersebut dicobakan pada sampel ditunjukan pada populasi diambil. Setelah data ditabulasikan, kemudian dilakukan analisis factor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrument dalam suatu factor, dan mengkorelasikan skor factor dengan skor total.
Bila korelasi tiap factor tersebut positif dan besarnya 0,3 ke atas maka factor tersebut merupakan contruct yang kuat.
b. Pengujian Validitas Isi (Contruct Validity)
Untuk instrumen  yang berbentuk test, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan.
Teknis pengujian validitas konstruk dan validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrument, atau matrik pengembangan instrument. Untuk menguji validitas buti-butir instrument lebih lanjut, maka setelah dikonsultasikan denga ahli, diujicobakan, dianalisis dengan analisis item dan uji beda
c. Pengujian Validitas Ekternal
Validitas Ekternal instrument diuji dengan cara membandingkan (untuk mencarai kesamaa) anatar criteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta empiris yang terjadi dilapangan.
2. Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian Reliabilitas Instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat diuji denganmenganalisis butir-butir yang ada pada instrument dengan teknik tertentu.
a.       Test-retest
Dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Jadi, dalam hal ini intrumennya sama, respondenya sama, dan waktunya yang berbeda.
b.      Ekuivalen 
Pengujian reliabilitas instrument dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, intrumen berbeda.
c.       Gabungan
Dilakukan denga cara mencobakan duan instrument yang ekuivalen itu beberapa kali, ke responden yang sama.
d.      Internal consistency

Dilakukan denga cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian yang data diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu.