Minggu, 28 Desember 2014

POPULASI DAN SAMPEL KUANTITATIF


 




POPULASI DAN SAMPEL

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
 Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : Bu Maria Theresia Sri Hartati



                                                oleh
Kiftiyah Riris Novita            ( 1301413122 )
                                                                                  



JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014


A.  POPULASI
Populasi adalah wilayah generasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yag ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian disimpulkannya.
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.
Misalnya akan melakukan penelitian di sekolah X, maka sekolah X ini merupakan populasi. Sekolah X mempunyai sejumlah orang/subyek dan obyek yang lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/kuantitas. Tetapi sekolah X juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, iklim organisasinya, dan lain-lain; dan juga mempunyai karakteristik obyek yang lain, misalnya kebijakan, prosedur kerja, tata ruang kelas, lulusan yang dihasilkan dan lain-lain. Yang terakhir berarti populasi dalam arti karakteristik.
Satu orang pun bisa digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, disiplin pribadi, hobi, cara bergaul, kepemimpinannya, dan lain-lain.

B.  SAMPEL
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yag diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

C.    Teknik Sampling
Teknik Sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian , terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Secara skematis, teknik macam-macam sampling ditunjukkan pada gambar 5.1
Dari gambar tersebut terlihat bahwa, teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan NonProbability sampling . Probability Sampling meliputi , simple random , proportionate stratified random sampling , disproportionate stratified dan area random. Non-probability sampling meliputi , sampling sistematis , sampling kuota, sampling aksidental , purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
 














Gambar 5.1 Macam-macam Teknik sampling
1.      Probability Sampling
Probability Sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sam bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel . teknik ini meliputi , Simple random, Proportionate stratified random sampling , Disproportionate stratified, Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah ).
a.      Simple Random Sampling
Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatiakan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Lihat gambar 5.2 berikut:
 

Diambil secara

Random




b.      Proportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota / unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata , maka populasi itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1=45. S2 = 30. STM=800, ST = 900, SMEA=400, SD=300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut. Jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel diberikan setelah bagian ini. Teknik Proportionate stratified random sampling dapat digambarkan seperti gambar 5.3 berikut .



 


                                             Diambil secara random

                                                          Proposional


c.       Disproportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai : 3 orang lulusan S3 , 4 orang lulusan S2 , 90 orang lulusan S1, 800 orang smu, 700 orang smp, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang s2  itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.
d.      Cluster sampling (Area sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu Negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data , maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Misalnya di Indonesia terdapat 30 propinsi, makapengambilan 15 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu di ingat , karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Propinsi di Indonesia ada ynag pendudukanya padat, ada yang tidak , ada yang mempunyai hutan yang banyak ada yang tidak, adayang kaya akan bahan tambang ada yang tidak. Karakteristik semacam ini perlu diperhatiakan sehingga pengambilan sampel menurut strata populasi itu dapat ditetapkan.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap yaitu  tahap pertama menentukan sampel daerah , dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.4 berikut.
2.      Non-probability sampling
Non-probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang / kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel meliputi, sampling sistematis, kuota, aksidental, purposive, jenuh, snowball.
a.       Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk ini maka yang di ambil sebagai sampel adalah 1,5,10,15,20, dan seterusnya sampai 100.
Lihat gambar 5.5

 









Gambar 5.5 Sampling Sistematis No populasi kelipatan tiga yang di ambil (3,6,9, dan seterusnya).
b.      Samling Kuota
Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populai yang mempunyai cirri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang di inginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan ijin mendirikan bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut , maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.
Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang penumpul data , maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang sampel , atau 5 orang terssebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
c.       Sampling Insidental
Sampling incidental merupakan teknik penentuan sampel berdassarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebettulan/ incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
d.      Sampling Purposive
Sampling purposive merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kalitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli politik. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.
e.       Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil,kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus , dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
f.       Snowball Sampling
Snowball sampling merupakan teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lam-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tau sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Teknik pengambilan sampel ditunjukkan padagambar 5.6 berikut. Pada penelitiankuantitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball. Misalnya akan meneliti siapa provokator kerusushan, maka akan cocok menngunakan purposive dan snowball sampling.
D.   Menentukan Ukuran Sampel
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Berapa jumlah anggota sampel yang sering tepat digunakan dalam penelitian? Jawabanya tergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki. Tingkap ketelitian / kepercayaan yang dikehendaki sering tergantung pada sumber dana, waktu dan tenaga yang tersedia makin besar tingkat kesalahan maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan sebaliknya, makin kecil tingkat kesalahn, maka semakin besar jumlah anggota sampel yang diperlukan sebagai sumber data.
     Berikut ini tabel penentuan jumlah sampel dan populasi tertentu yang dikembangkan dari isaac dan michale, untuk tingkat kesalahan, 1%, 5%, 10%.rumus untuk menghitung ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya adalah sebagai berikut.

S=        α2.N.P.Q
                 D2(N-1) + α2.P.Q
Α2 dengan dk=1, taraf kesalahan 1%, 5%, 10%. P=Q=0,5. D=0,05, s=jumlah sampel.
    Cara menentukan ukuran sampel seperti yang dikemukakan diatas berdasarkan atas asumsi bahwa populasi berdistribusi normal.

E. Contoh Menentukan Ukuran Sampel
            Akan dilakukan penelitian untuk mengetahui tanggapan kelompok masyarakat terhadap pelayanan pendidikan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah tertentu. Kelompok masyarakat ini terdiri dari 1000 orang, dikelompokkan berdasarkan jenjang pendidikan yaitu, S1= 50, Sarjana Muda = 300, SMK = 500, SMP = 100, SD = 50
            Berdasarkan tabel 5.1 (Sugiono), bila jumlah populasi = 1000, kesalahan 5%, maka jumlah sampelnya = 258. Maka dapat dihitung :
S1        =          50/1000           X         258      =          12,90   =          13
SM      =          300/1000         X         258      =          77,40   =          78
SMK   =          500/1000         X         258      =          129
SMP    =          100/1000         X         258      =          25,8     =          29
SD       =          50/1000           X         258      =          12,90   =          13
Jumlah                                                                         =          259

Jadi jumlah sampelnya = 258. Jumlah yang pecahan bisa dibulatkan ke atas, sehingga jumlah sampel menjadi 259.
            Pada perhitungan yang menghasilkan pecahan (terdapat koma) bisa dibulatkan ke atas sehingga junlah sampelnya lebih 259. Hal ini lebih aman daripada kurang dari 258.
Roscoe dalam buku Research Methods For Business (1982 : 253) memberikan saran-saran tentang ukuran sampel untuk penelitian seperti berikut ini.
1.      Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500.
2.      Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya : pria-wanita, pegawai negeri-swasta dan lain-lain) maka jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30.
3.      Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau regresi ganda misalnya,) maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5 (independen + dependen), maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50.
4.      Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 s/d 20.

F. cara mengambil anggota sampel
Dibagian depan bab ini telah dikemukakan terdapat dua teknik sampling, yaitu probility sampling dan nonprobelity samoling. Probility sampling adalah teknik sampling yang memberi peluang sama kepada anggota populasi untuk dipilih untuk menjadi anggota sample. Cara demikian sering disebut dengan random sampling, atau cara pengambilan sampel secara acak.
Pengambilan sampel secara random/ acak dapat dilakukan dengan bilangan random, komputer, maupun dengan undian. Bila pengambilan dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasi diberi nomor terlebih dahulu, sesuai dengan jumblah anggota populasi.
Karena teknik pengambian sampel adalah random, maka setiap anggota populasi mempunyai peluang sama untuk ipilih menjadi anggota sampel. Untuk contoh diatas peluang setip anggota populsi = 1/1000. Dengan demikian cara pengambilannya bila nomor satu telah diambil, maka perlu dikembalikan lagi, kalau tidak dikembalikan peluangnya menjadi tidak sama lagi. Misalnya nomor pertama tidak dikembalikan lagi maka peluangnya maka peluang berikutnya menjadi 1: (1000-1) = 1/999. Peluang akan semakin besar bila yang telah diambil tidak dikembalikan. Bila yang diambil keluar lagi,di anggap tidak sah dan dikembalikan lagi.





Pertanyaan :
1.      Jelaskan perbedaan teknik probability sampling dengan non probability sampling !
2.      Jelaskan tentang sampling purposive dan kegunaannya !
3.      Adakah criteria khusus pada sampel yang diperlukan untuk mengurangi hasil penelitian yang bias?
4.      Bagaimana proses sampling yang benar. Apakah pengambilan sampel harus sesuai dengan prosedur atau tidak?

0 komentar: