POPULASI
DAN SAMPEL
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah
Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : Bu Maria Theresia Sri
Hartati
oleh
Kiftiyah Riris
Novita ( 1301413122 )
JURUSAN BIMBINGAN
DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2014
A. POPULASI
Populasi adalah wilayah generasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yag ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian disimpulkannya.
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam
yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang
dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh
subyek atau obyek itu.
Misalnya akan melakukan penelitian di sekolah X, maka sekolah X ini
merupakan populasi. Sekolah X mempunyai sejumlah orang/subyek dan obyek yang
lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/kuantitas. Tetapi sekolah X
juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya,
disiplin kerjanya, kepemimpinannya, iklim organisasinya, dan lain-lain; dan
juga mempunyai karakteristik obyek yang lain, misalnya kebijakan, prosedur
kerja, tata ruang kelas, lulusan yang dihasilkan dan lain-lain. Yang terakhir
berarti populasi dalam arti karakteristik.
Satu orang pun bisa digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu
mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, disiplin pribadi,
hobi, cara bergaul, kepemimpinannya, dan lain-lain.
B. SAMPEL
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari
semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan
waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.
Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan
untuk populasi. Untuk itu sampel yag diambil dari populasi harus betul-betul
representatif (mewakili).
C.
Teknik
Sampling
Teknik
Sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel
yang akan digunakan dalam penelitian , terdapat berbagai teknik sampling yang
digunakan. Secara skematis, teknik macam-macam sampling ditunjukkan pada gambar
5.1
Dari
gambar tersebut terlihat bahwa, teknik sampling pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan NonProbability
sampling . Probability Sampling meliputi , simple random , proportionate
stratified random sampling , disproportionate stratified dan area random.
Non-probability sampling meliputi , sampling sistematis , sampling kuota,
sampling aksidental , purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
![]() |
Gambar
5.1 Macam-macam Teknik sampling
1.
Probability
Sampling
Probability
Sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sam
bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel .
teknik ini meliputi , Simple random, Proportionate stratified random sampling ,
Disproportionate stratified, Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah
).
a.
Simple
Random Sampling
Dikatakan
simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan
secara acak tanpa memperhatiakan strata yang ada dalam populasi itu. Cara
demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Lihat gambar 5.2
berikut:
![]() |
Diambil
secara
Random
b.
Proportionate
stratified random sampling
Teknik
ini digunakan bila populasi mempunyai anggota / unsur yang tidak homogen dan
berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari
latar belakang pendidikan yang berstrata , maka populasi itu berstrata.
Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1=45. S2 = 30. STM=800, ST = 900, SMEA=400,
SD=300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut.
Jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel diberikan setelah bagian ini.
Teknik Proportionate stratified random sampling dapat digambarkan seperti gambar
5.3 berikut .
Diambil secara random
Proposional
c.
Disproportionate
stratified random sampling
Teknik
ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi
kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai : 3
orang lulusan S3 , 4 orang lulusan S2 , 90 orang lulusan S1, 800 orang smu, 700
orang smp, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang s2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena
dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan
SMP.
d.
Cluster
sampling (Area sampling)
Teknik
sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti
atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu Negara, propinsi
atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data
, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
Misalnya di Indonesia terdapat 30 propinsi, makapengambilan 15 propinsi itu dilakukan
secara random. Tetapi perlu di ingat , karena propinsi-propinsi di Indonesia
itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan
stratified random sampling. Propinsi di Indonesia ada ynag pendudukanya padat,
ada yang tidak , ada yang mempunyai hutan yang banyak ada yang tidak, adayang
kaya akan bahan tambang ada yang tidak. Karakteristik semacam ini perlu
diperhatiakan sehingga pengambilan sampel menurut strata populasi itu dapat
ditetapkan.
Teknik
sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah , dan
tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara
sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.4 berikut.
2.
Non-probability
sampling
Non-probability
sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang /
kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel. Teknik sampel meliputi, sampling sistematis, kuota, aksidental,
purposive, jenuh, snowball.
a. Sampling
Sistematis
Sampling
sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota
populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri
dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai
dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja,
genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari
bilangan lima. Untuk ini maka yang di ambil sebagai sampel adalah 1,5,10,15,20,
dan seterusnya sampai 100.
Lihat
gambar 5.5
Gambar
5.5 Sampling Sistematis No populasi kelipatan tiga yang di ambil (3,6,9, dan
seterusnya).
b. Samling
Kuota
Sampling
Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populai yang mempunyai
cirri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang di inginkan. Sebagai contoh,
akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan
masyarakat dalam urusan ijin mendirikan bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan
500 orang. Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut ,
maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang
ditentukan.
Bila
pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang penumpul
data , maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang sampel ,
atau 5 orang terssebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
c. Sampling
Insidental
Sampling
incidental merupakan teknik penentuan sampel berdassarkan kebetulan, yaitu
siapa saja yang secara kebettulan/ incidental bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok
sebagai sumber data.
d. Sampling
Purposive
Sampling
purposive merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Misalnya akan melakukan penelitian tentang kalitas makanan, maka sampel sumber
datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik
di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli politik.
Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau
penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.
e. Sampling
jenuh
Sampling
jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan
sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative
kecil,kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi
dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus ,
dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
f. Snowball
Sampling
Snowball
sampling merupakan teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil,
kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lam-lama menjadi
besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi
karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan,
maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tau sebelumnya. Begitu
seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Teknik pengambilan sampel
ditunjukkan padagambar 5.6 berikut. Pada penelitiankuantitatif banyak
menggunakan sampel purposive dan snowball. Misalnya akan meneliti siapa provokator
kerusushan, maka akan cocok menngunakan purposive dan snowball sampling.
D.
Menentukan
Ukuran Sampel
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan
ukuran sampel. Berapa jumlah anggota sampel yang sering tepat digunakan dalam
penelitian? Jawabanya tergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang
dikehendaki. Tingkap ketelitian / kepercayaan yang dikehendaki sering
tergantung pada sumber dana, waktu dan tenaga yang tersedia makin besar tingkat
kesalahan maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan
sebaliknya, makin kecil tingkat kesalahn, maka semakin besar jumlah anggota
sampel yang diperlukan sebagai sumber data.
Berikut ini tabel penentuan
jumlah sampel dan populasi tertentu yang dikembangkan dari isaac dan michale,
untuk tingkat kesalahan, 1%, 5%, 10%.rumus untuk menghitung ukuran sampel dari
populasi yang diketahui jumlahnya adalah sebagai berikut.
S= α2.N.P.Q
D2(N-1) + α2.P.Q
Α2 dengan dk=1, taraf kesalahan 1%, 5%, 10%. P=Q=0,5. D=0,05,
s=jumlah sampel.
Cara menentukan ukuran sampel seperti yang dikemukakan diatas berdasarkan
atas asumsi bahwa populasi berdistribusi normal.
E. Contoh Menentukan Ukuran Sampel
Akan
dilakukan penelitian untuk mengetahui tanggapan kelompok masyarakat terhadap
pelayanan pendidikan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah tertentu. Kelompok
masyarakat ini terdiri dari 1000 orang, dikelompokkan berdasarkan jenjang
pendidikan yaitu, S1= 50, Sarjana Muda = 300, SMK = 500, SMP = 100, SD = 50
Berdasarkan tabel 5.1 (Sugiono),
bila jumlah populasi = 1000, kesalahan 5%, maka jumlah sampelnya = 258. Maka
dapat dihitung :
S1 = 50/1000 X 258 = 12,90 = 13
SM = 300/1000 X 258 = 77,40 = 78
SMK = 500/1000 X 258 = 129
SMP = 100/1000 X 258 = 25,8 = 29
SD = 50/1000 X 258 = 12,90 = 13
Jumlah = 259
Jadi
jumlah sampelnya = 258. Jumlah yang pecahan bisa dibulatkan ke atas, sehingga
jumlah sampel menjadi 259.
Pada perhitungan yang menghasilkan
pecahan (terdapat koma) bisa dibulatkan ke atas sehingga junlah sampelnya lebih
259. Hal ini lebih aman daripada kurang dari 258.
Roscoe
dalam buku Research Methods For Business (1982 : 253) memberikan
saran-saran tentang ukuran sampel untuk penelitian seperti berikut ini.
1. Ukuran
sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500.
2. Bila
sampel dibagi dalam kategori (misalnya : pria-wanita, pegawai negeri-swasta dan
lain-lain) maka jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30.
3. Bila
dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau
regresi ganda misalnya,) maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah
variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5 (independen +
dependen), maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50.
4. Untuk
penelitian eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol, maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 s/d 20.
F. cara mengambil
anggota sampel
Dibagian depan bab
ini telah dikemukakan terdapat dua teknik sampling, yaitu probility sampling
dan nonprobelity samoling. Probility sampling adalah teknik sampling yang
memberi peluang sama kepada anggota populasi untuk dipilih untuk menjadi
anggota sample. Cara demikian sering disebut dengan random sampling, atau cara
pengambilan sampel secara acak.
Pengambilan sampel
secara random/ acak dapat dilakukan dengan bilangan random, komputer, maupun
dengan undian. Bila pengambilan dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasi
diberi nomor terlebih dahulu, sesuai dengan jumblah anggota populasi.
Karena teknik
pengambian sampel adalah random, maka setiap anggota populasi mempunyai peluang
sama untuk ipilih menjadi anggota sampel. Untuk contoh diatas peluang setip
anggota populsi = 1/1000. Dengan demikian cara pengambilannya bila nomor satu
telah diambil, maka perlu dikembalikan lagi, kalau tidak dikembalikan
peluangnya menjadi tidak sama lagi. Misalnya nomor pertama tidak dikembalikan
lagi maka peluangnya maka peluang berikutnya menjadi 1: (1000-1) = 1/999.
Peluang akan semakin besar bila yang telah diambil tidak dikembalikan. Bila
yang diambil keluar lagi,di anggap tidak sah dan dikembalikan lagi.
Pertanyaan
:
1. Jelaskan
perbedaan teknik probability sampling dengan non probability sampling !
2. Jelaskan
tentang sampling purposive dan kegunaannya !
3. Adakah
criteria khusus pada sampel yang diperlukan untuk mengurangi hasil penelitian
yang bias?
4. Bagaimana
proses sampling yang benar. Apakah pengambilan sampel harus sesuai dengan
prosedur atau tidak?








0 komentar:
Posting Komentar